7 thoughts on “Materi kelompok 5 pendidikan akhlak tasawuf”
Mengapa di makalah ini menegaskan bahwa pemikiran kedua tokoh tidak bisa diterapkan secara mentah dalam pendidikan masa kini, dan bagaimana seharusnya pemikiran tersebut diposisikan dalam konteks pendidikan modern?
pemikiran al-ghazali dan miskawaih tidak bisa diterapkan secara mentah karena beliau berdua lahir di konteks zaman yang berbeda dengan masa kini. tetapi nilai-nilai dasarnya masih bisa digunakan, misalnya pengendalian diri, pembiasaan akhlak baik, pembinaan jiwa. jadi sebaiknya pemikiran mereka itu dijadikan dasar atau sebagai inspirasi dalam pendidikan dengan penerapannya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik di zaman sekarang
Miskawaih menyebutkan empat keutamaan akhlak yaitu (hikmah, syaja’ah, ‘iffah, dan ‘adalah) yang bersumber dari posisi tengah (al-wasath). Bagaimana batas yang jelas antara sifat syaja’ah (berani) yang terpuji dengan sifat ceroboh (kelebihan) atau penakut (kekurangan) dalam kehidupan nyata mahasiswa saat ini?
kalau dikaitkan dengan kehidupan mahasiswa, syajaah itu ngga sekadar berani, tapi dia berani yang tetap menggunakan pertimbangan akal dan tidak berlebihan. misalnya nih, ketika mahasiswa tersebut berani menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, atau membela hal yang benar dengan tetap mempertimbangkan situasi dan akibatnya.
jika ‘keberanian’ dilakukan tanpa pertimbangan yang matang (misalnya asal berbicara atau bertindak) maka hal itu menjadi ceroboh. begitu juga sebaliknya jika seseorang terlalu takut untuk menyampaikan pendapat atau mengambil tindakan yang sebenarnya perlu dilakukan, maka dia udah masuk penakut.
jadi, syajaah itu berada di tengah’ antara keberanian yang berlebihan dan keberanian yang kurang. sehingga batasnya jelasnya tuh ada pada pertimbangan akal dan proporsionalitas dalam bertindak
Jika akhlak menurut Al-Ghazali dan Miskawaih dapat dibentuk melalui pembiasaan, apakah seseorang yang melakukan kebaikan hanya karena sudah terbiasa dapat dikatakan memiliki akhlak yang baik, meskipun ia tidak memahami alasan dan nilai dari perbuatannya?
dari pendapat saya, belum tentu. karena pembiasaan memang penting dalam membentuk akhlak karena perbuatan baik yang dilakukan secara berulang bisa menjadi kebiasaan. tetapi jika seseorang hanya berbuat baik karena terbiasa tanpa memahami alasan dan nilai dari perbuatannya, akhlaknya belum sepenuhnya terbentuk secara sadar.
sebaiknya, pembiasaan juga disertai pemahaman dan kesadaran, sehingga seseorang tidak hanya melakukan kebaikan karena emang sudah terbiasa, tapi juga dia mampu memahami mengapa perbuatan tersebut baik dan tetap memilih melakukannya ketika berada dalam situasi yang berbeda
Bagaimana pendidikan dapat memastikan bahwa pemahaman tentang penyucian jiwa dan kedekatan kepada Allah menurut Al-Ghazali tidak disalahartikan oleh peserta didik, terutama ketika pemahaman keagamaan yang keliru bisa membuat seseorang menjauh dari keyakinannya?
Mengapa di makalah ini menegaskan bahwa pemikiran kedua tokoh tidak bisa diterapkan secara mentah dalam pendidikan masa kini, dan bagaimana seharusnya pemikiran tersebut diposisikan dalam konteks pendidikan modern?
pemikiran al-ghazali dan miskawaih tidak bisa diterapkan secara mentah karena beliau berdua lahir di konteks zaman yang berbeda dengan masa kini. tetapi nilai-nilai dasarnya masih bisa digunakan, misalnya pengendalian diri, pembiasaan akhlak baik, pembinaan jiwa. jadi sebaiknya pemikiran mereka itu dijadikan dasar atau sebagai inspirasi dalam pendidikan dengan penerapannya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik di zaman sekarang
Miskawaih menyebutkan empat keutamaan akhlak yaitu (hikmah, syaja’ah, ‘iffah, dan ‘adalah) yang bersumber dari posisi tengah (al-wasath). Bagaimana batas yang jelas antara sifat syaja’ah (berani) yang terpuji dengan sifat ceroboh (kelebihan) atau penakut (kekurangan) dalam kehidupan nyata mahasiswa saat ini?
kalau dikaitkan dengan kehidupan mahasiswa, syajaah itu ngga sekadar berani, tapi dia berani yang tetap menggunakan pertimbangan akal dan tidak berlebihan. misalnya nih, ketika mahasiswa tersebut berani menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, atau membela hal yang benar dengan tetap mempertimbangkan situasi dan akibatnya.
jika ‘keberanian’ dilakukan tanpa pertimbangan yang matang (misalnya asal berbicara atau bertindak) maka hal itu menjadi ceroboh. begitu juga sebaliknya jika seseorang terlalu takut untuk menyampaikan pendapat atau mengambil tindakan yang sebenarnya perlu dilakukan, maka dia udah masuk penakut.
jadi, syajaah itu berada di tengah’ antara keberanian yang berlebihan dan keberanian yang kurang. sehingga batasnya jelasnya tuh ada pada pertimbangan akal dan proporsionalitas dalam bertindak
Jika akhlak menurut Al-Ghazali dan Miskawaih dapat dibentuk melalui pembiasaan, apakah seseorang yang melakukan kebaikan hanya karena sudah terbiasa dapat dikatakan memiliki akhlak yang baik, meskipun ia tidak memahami alasan dan nilai dari perbuatannya?
dari pendapat saya, belum tentu. karena pembiasaan memang penting dalam membentuk akhlak karena perbuatan baik yang dilakukan secara berulang bisa menjadi kebiasaan. tetapi jika seseorang hanya berbuat baik karena terbiasa tanpa memahami alasan dan nilai dari perbuatannya, akhlaknya belum sepenuhnya terbentuk secara sadar.
sebaiknya, pembiasaan juga disertai pemahaman dan kesadaran, sehingga seseorang tidak hanya melakukan kebaikan karena emang sudah terbiasa, tapi juga dia mampu memahami mengapa perbuatan tersebut baik dan tetap memilih melakukannya ketika berada dalam situasi yang berbeda
Bagaimana pendidikan dapat memastikan bahwa pemahaman tentang penyucian jiwa dan kedekatan kepada Allah menurut Al-Ghazali tidak disalahartikan oleh peserta didik, terutama ketika pemahaman keagamaan yang keliru bisa membuat seseorang menjauh dari keyakinannya?