cara kita menerapkan prinsip jalan tengah yang di sebut wasath oleh Ibn Miskawayh, supaya masyarakat tidak jatuh ke sikap berlebihan atau ifrath dan tidak pweduli atau tafrith saat merespons berita hoak, provokasi, dan ujaran kebencian yang ada di media sosial
dengan memberikan pendidikan yang berdasarkan pada perbedaan individual dan metode alami. jadi anak itu dididik dengan memperhatikan perbedaan individual (watak) jika diabaikan maka anak tersebut akan berkembang sesuai dengan wataknya tersebut dan juga dengan memperhatikan metode alami (bertahap)daya apa yang muncul dulu itu yang harus diarahkan kepada jalan tengah.
Jika akhlak seseorang dapat dibentuk melalui pembiasaan, apakah seseorang yang sejak kecil terbiasa melakukan keburukan masih dapat mengubah akhlaknya ketika dewasa? Bagaimana Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh menjelaskan kemungkinan perubahan tersebut?
bisa, sebab akhlak menurut ibn miskwayh adalah sesuatu yang dibentuk melalui kebiasaan. jadi tinggal mengubah habit dan lingkungannya saja. dalam masalah ini lebih relevan dengan konsep pemikiran al-ghazali. jadi seseorang harus mengetahui keburukan yang ada pada dirinya bisa melalui teman, keluarga, atau bahkan musuh dan dirinya pribadi harus melalui proses penyucian jiwa (takhalli, tahalli, tajalli) yang diperkuat oleh dukungan lingkungannya.
Di makalah dijelaskan ada 3 tahapan penyucian jiwa ( tazkiyatun nafs) yaitu ada Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Di antara Takhalli, Tahalli, dan Tajalli, mana yang paling sulit diterapkan oleh masyarakat modern saat ini, dan berikan alasannya.
secara konsep takhalli itu gerbangnya, tajalli itu hasil, yang diperoleh dari pembiasaan perbuatan baik yaitu tahalli. jika dijawab sesuai pengalaman saya karena saya termasuk masyarakat modern wkwk, yang paling sulit itu takhalli dan tajalli. kenapa dua? karena pada esensinya kedua tahapan tersebut adalah satu yang disebut syariat agama. jadi melaksanakan syariat agama merupakan proses takhalli sekaligus tahalli. ini dijelaskan dalam sumber aslinya tetapi tidak saya cantumkan dalam makalah. alasannya mengapa kedua proses ini sulit adalah secara naluri manusia itu cenderung mengarah pada sifat buruk jika tidak dikendalikan oleh hati dan akalnya. jadi untuk meninggalkan sebuah keburukan (takhalli)merasa sulit. dan untuk mengistiqamahkan pada yang baik (tahalli)terasa berat. selain itu juga dipengaruhi oleh faktor lingkungannya apakah mendukung untuk berubah menjadi baik atau malah memperburuk.
Jika pendidikan modern sudah memiliki berbagai teori psikologi dan metode pembelajaran, apa kelebihan yang dapat diberikan oleh pemikiran Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh?
sebagai dasar dalam pendidikan islam agar berorientasi kepada nilai tauhid dan menempatkan manusia pada fitrahnya. dengan memahami konsep bahwa akhlak dapat diubah maka sebagai guru memiliki keyakinan akan potensi murid untuk menjadi lebih baik, jika tidak ada paham seperti itu murid dapat dibiarkan dalam tabiat aslinya dan merasa ditelantarkan sebab memiliki paham keburukannya tidak dapat diubah. berdasarkan metode alami juga menyebabkan adanya pendidikan secara bertahap. unsur-unsur jiwaa yang diberikan al-ghazali juga menjadikan tujuan pendidikan kita menjadi pengembangan diri secara holistik. konsep penyucian jiwa juga memberikan pemahaman bahwa seseorang yang dinilai sangat buruk pun dapat berubah menjadi lebih baik. semua itu menjadi dasar bagi perkembangan teori psikologi dan metode pembelajaran yang ada saat ini
Jika menurut Al-Ghazali akhlak dapat dibentuk melalui pembiasaan, apakah kebiasaan yang baik selalu menjamin seseorang memiliki akhlak yang baik? Lalu bagaimana dengan niatnya? Dan ( pertanyaan kedua🙏🏻☺️) disitu Ibn Miskawayh menekankan pentingnya perbedaan karakter setiap anak…lalu Bagaimana jika metode yang dianggap baik untuk satu anak justru tidak cocok untuk anak yang lain? ( Bagaimana menurut anda )
Ibn Miskawayh menganggap manusia yang sempurna adalah manusia yang mampu menggunakan daya pikirnya dengan benar dan melakukan perbuatan yang mulia. Apakah kecerdasan saja cukup untuk membuat seseorang menjadi manusia yang baik?
jika seseorang beranggapan bahwa apa yang dia lakukan telah benar karena ia mengikuti kata hati atau karena faktor dari lingkungannya juga, padahal apa yang dia lakukan kurang sesuai atau kurang baik menurut syari’at , sebagai pendidik bagaimana cara kita dapat merubah pribadi atau keyakinan tersebut menjadi lebih baik kira kira apa langkah awal yang harus kita ambil sebagai pendidik?
cara kita menerapkan prinsip jalan tengah yang di sebut wasath oleh Ibn Miskawayh, supaya masyarakat tidak jatuh ke sikap berlebihan atau ifrath dan tidak pweduli atau tafrith saat merespons berita hoak, provokasi, dan ujaran kebencian yang ada di media sosial
dengan memberikan pendidikan yang berdasarkan pada perbedaan individual dan metode alami. jadi anak itu dididik dengan memperhatikan perbedaan individual (watak) jika diabaikan maka anak tersebut akan berkembang sesuai dengan wataknya tersebut dan juga dengan memperhatikan metode alami (bertahap)daya apa yang muncul dulu itu yang harus diarahkan kepada jalan tengah.
Jika akhlak seseorang dapat dibentuk melalui pembiasaan, apakah seseorang yang sejak kecil terbiasa melakukan keburukan masih dapat mengubah akhlaknya ketika dewasa? Bagaimana Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh menjelaskan kemungkinan perubahan tersebut?
bisa, sebab akhlak menurut ibn miskwayh adalah sesuatu yang dibentuk melalui kebiasaan. jadi tinggal mengubah habit dan lingkungannya saja. dalam masalah ini lebih relevan dengan konsep pemikiran al-ghazali. jadi seseorang harus mengetahui keburukan yang ada pada dirinya bisa melalui teman, keluarga, atau bahkan musuh dan dirinya pribadi harus melalui proses penyucian jiwa (takhalli, tahalli, tajalli) yang diperkuat oleh dukungan lingkungannya.
Di makalah dijelaskan ada 3 tahapan penyucian jiwa ( tazkiyatun nafs) yaitu ada Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Di antara Takhalli, Tahalli, dan Tajalli, mana yang paling sulit diterapkan oleh masyarakat modern saat ini, dan berikan alasannya.
secara konsep takhalli itu gerbangnya, tajalli itu hasil, yang diperoleh dari pembiasaan perbuatan baik yaitu tahalli. jika dijawab sesuai pengalaman saya karena saya termasuk masyarakat modern wkwk, yang paling sulit itu takhalli dan tajalli. kenapa dua? karena pada esensinya kedua tahapan tersebut adalah satu yang disebut syariat agama. jadi melaksanakan syariat agama merupakan proses takhalli sekaligus tahalli. ini dijelaskan dalam sumber aslinya tetapi tidak saya cantumkan dalam makalah. alasannya mengapa kedua proses ini sulit adalah secara naluri manusia itu cenderung mengarah pada sifat buruk jika tidak dikendalikan oleh hati dan akalnya. jadi untuk meninggalkan sebuah keburukan (takhalli)merasa sulit. dan untuk mengistiqamahkan pada yang baik (tahalli)terasa berat. selain itu juga dipengaruhi oleh faktor lingkungannya apakah mendukung untuk berubah menjadi baik atau malah memperburuk.
Jika pendidikan modern sudah memiliki berbagai teori psikologi dan metode pembelajaran, apa kelebihan yang dapat diberikan oleh pemikiran Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh?
sebagai dasar dalam pendidikan islam agar berorientasi kepada nilai tauhid dan menempatkan manusia pada fitrahnya. dengan memahami konsep bahwa akhlak dapat diubah maka sebagai guru memiliki keyakinan akan potensi murid untuk menjadi lebih baik, jika tidak ada paham seperti itu murid dapat dibiarkan dalam tabiat aslinya dan merasa ditelantarkan sebab memiliki paham keburukannya tidak dapat diubah. berdasarkan metode alami juga menyebabkan adanya pendidikan secara bertahap. unsur-unsur jiwaa yang diberikan al-ghazali juga menjadikan tujuan pendidikan kita menjadi pengembangan diri secara holistik. konsep penyucian jiwa juga memberikan pemahaman bahwa seseorang yang dinilai sangat buruk pun dapat berubah menjadi lebih baik. semua itu menjadi dasar bagi perkembangan teori psikologi dan metode pembelajaran yang ada saat ini
Jika menurut Al-Ghazali akhlak dapat dibentuk melalui pembiasaan, apakah kebiasaan yang baik selalu menjamin seseorang memiliki akhlak yang baik? Lalu bagaimana dengan niatnya? Dan ( pertanyaan kedua🙏🏻☺️) disitu Ibn Miskawayh menekankan pentingnya perbedaan karakter setiap anak…lalu Bagaimana jika metode yang dianggap baik untuk satu anak justru tidak cocok untuk anak yang lain? ( Bagaimana menurut anda )
Ibn Miskawayh menganggap manusia yang sempurna adalah manusia yang mampu menggunakan daya pikirnya dengan benar dan melakukan perbuatan yang mulia. Apakah kecerdasan saja cukup untuk membuat seseorang menjadi manusia yang baik?
jika seseorang beranggapan bahwa apa yang dia lakukan telah benar karena ia mengikuti kata hati atau karena faktor dari lingkungannya juga, padahal apa yang dia lakukan kurang sesuai atau kurang baik menurut syari’at , sebagai pendidik bagaimana cara kita dapat merubah pribadi atau keyakinan tersebut menjadi lebih baik kira kira apa langkah awal yang harus kita ambil sebagai pendidik?