nama anggota:

  • Siti wahidatussolehah 06040124182
  • M Chuluq Maushuli 06040124164
  • Miftakhul Fauzia 06040123166
  • Saniyyah Jayusman 06040124179
  • Novi Maulana Sofa 06040124175
  • M.Nurul Hikam Annafis 06040124170
  • Soleha Amalia 06040124184
  • Muhammad Rafi Nahwal firdausi 06040124171

A. LATAR BELAKANG

Perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan saat ini memberikan banyak perubahan terhadap proses pembelajaran di kelas. Penggunaan media pembelajaran berbasis digital menjadi salah satu upaya untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menarik, aktif, dan menyenangkan bagi peserta didik. Guru tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi dengan baik, tetapi juga harus kreatif dalam memilih media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Dengan adanya media digital, proses pembelajaran dapat berlangsung lebih interaktif sehingga peserta didik tidak mudah merasa bosan selama mengikuti kegiatan belajar.Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya materi Akidah Akhlak, peserta didik sering kali mengalami kesulitan memahami materi apabila pembelajaran hanya dilakukan melalui metode ceramah. Materi Akidah Akhlak tidak hanya menuntut peserta didik memahami konsep, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan media pembelajaran yang mampu meningkatkan minat dan keterlibatan peserta didik agar materi lebih mudah dipahami dan diterapkan.Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan adalah Wordwall. Wordwall merupakan platform pembelajaran interaktif berbasis permainan edukatif yang dapat membantu peserta didik belajar sambil bermain. Melalui media ini, peserta didik dapat menjawab soal secara langsung dengan tampilan yang menarik dan interaktif. Penggunaan Wordwall diharapkan mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih hidup, meningkatkan antusias peserta didik, serta membantu mereka memahami materi Akidah Akhlak dengan lebih mudah.Berdasarkan hal tersebut, dilakukan kegiatan observasi terhadap penerapan media Wordwall pada pembelajaran Akidah Akhlak. Observasi ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran, tingkat keaktifan peserta didik, serta efektivitas penggunaan media Wordwall dalam mendukung proses pembelajaran di kelas.

B. TUJUAN OBSERVASI

Kegiatan observasi ini dilaksanakan dengan beberapa tujuan, yaitu:1. Mengetahui proses penerapan media Wordwall dalam pembelajaran Akidah Akhlak.2. Mengetahui tingkat keaktifan dan antusias peserta didik selama pembelajaran berlangsung.3. Mengetahui efektivitas penggunaan media Wordwall dalam membantu pemahaman materi Akidah Akhlak.4. Mengetahui kendala yang dihadapi selama pelaksanaan pembelajaran menggunakan media Wordwall

C. MANFAAT OBSERVASI

Kegiatan observasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Bagi praktikan, kegiatan ini menjadi pengalaman dalam menerapkan media pembelajaran berbasis digital secara langsung di kelas serta melatih kemampuan mengelola pembelajaran yang kreatif dan interaktif. Selain itu, observasi ini juga membantu praktikan memahami kondisi nyata peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.Bagi peserta didik, penggunaan media Wordwall memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Peserta didik dapat belajar sambil bermain sehingga lebih aktif, antusias, dan mudah memahami materi Akidah Akhlak yang disampaikan. Pembelajaran yang interaktif juga membantu meningkatkan motivasi belajar peserta didik.Bagi guru dan sekolah, hasil observasi ini dapat menjadi referensi dalam mengembangkan media pembelajaran yang inovatif dan berbasis teknologi. Penggunaan Wordwall dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan menarik bagi peserta didik.

BAB II PEMBAHASAN

A. Tempat dan Waktu Observasi

TempatSD AL-IKHLAS Surabaya
Hari/TanggalJumat 8 mei 2026
Waktu 08.30-10.00
MateriAkhlak mazmumah
Model pembelajaran Ceramah dan Game Based Learning
Media pembelajaran Wordwall dan PPT
Jumlah peserta didik8 orang (Kelas VI)

Kegiatan observasi dan praktik dilaksanakan di SD Al-Ikhlas dengan memanfaatkan ruang kelas sebagai tempat pembelajaran. Ruang belajar yang digunakan cukup nyaman dan mendukung proses pembelajaran, dilengkapi dengan fasilitas seperti meja belajar, papan tulis, serta Smart TV yang digunakan sebagai media pembelajaran berbasis ICT. Meskipun fasilitas yang tersedia tergolong sederhana, hal tersebut tidak mengurangi antusias peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Peserta didik berasal dari latar belakang keluarga yang beragam dan sehari-hari terbiasa mengikuti pembelajaran secara konvensional melalui penjelasan guru dan buku pelajaran. Oleh karena itu, penggunaan media PPT interaktif dan game edukatif memberikan pengalaman belajar yang baru dan menarik bagi mereka.Rentang usia peserta didik yang beragam, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 SD, menjadi salah satu karakteristik yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran. Peserta didik kelas atas umumnya lebih mudah memahami materi dan aktif menjawab pertanyaan, sedangkan peserta didik kelas bawah masih membutuhkan pendampingan dan penjelasan yang lebih sederhana. Kondisi kelas yang heterogen tersebut menjadi pertimbangan penting dalam menentukan metode, bahasa penyampaian, serta penggunaan media pembelajaran agar seluruh peserta didik dapat mengikuti kegiatan dengan baik dan tetap terlibat secara aktif selama proses pembelajaran berlangsung.

Subjek dalam kegiatan observasi ini adalah murid di SD Al-Ikhlas Surabaya yang mengikuti proses pembelajaran dengan memanfaatkan media berbasis digital atau ICT (Information Communication Technology). Kegiatan observasi ini diarahkan pada pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan secara langsung oleh mahasiswa dengan menggunakan media digital sebagai alat pendukung dalam proses belajar mengajar dikelas. Murid dipilih menjadi subjek utama dalam observasi karena berperan aktif dalam mengikuti seluruh rangkaian proses pembelajaran dan memberikan tanggapan terhadap penggunaan media yang diterapkan. Keterlibatan dan respon murid diamati selama kegiatan berlangsung meliputi partisipasi, perhatian, antusias, serta kemampuan mereka dalam menggunakan dan memahami materi melalui media interaktif yang diterapkan. Data mengenai respon murid juga diperoleh melalui instrument penilaian seperti angket atau lembar evaluasi yang diberikan setelah selesai pembelajaran. Selain murid, guru mata pelajaran juga turut menjadi subjek pendukung dalam observasi. Guru berperan sebagai pengamat yang menilai pelaksanaan pembelajaran serta memberikan masukan terkait penggunan media ICT dalam kelas. Pendapat dan penilaian guru digunakan sebagai data tambahan untuk menganalisis Tingkat efektivitas media pembelajaran yang digunakan, sekaligus melihat sejauh mana media tersebut mampu meningkatkan keaktifan, minat belajar, dan keterlibatan murid dalam proses pembelajaran.

B. Pelaksanaan Pembelajaran

  1. Kegiatan pembelajaran

Kegiatan pembelajaran diawali dengan suasana yang cukup hangat di SD Al-Ikhlas. Kami memasuki ruang kelas dan disambut dengan antusias oleh para peserta didik yang tampak penasaran melihat adanya laptop dan media presentasi yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Setelah kondisi kelas mulai kondusif, salah satu dari kami memimpin pembukaan dengan mengucapkan salam yang langsung dijawab serentak oleh seluruh siswa dengan penuh semangat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama sebelum belajar sesuai kebiasaan yang diterapkan di sekolah, dipandu oleh guru pendamping kelas.Setelah doa selesai, kami memperkenalkan diri satu per satu kepada peserta didik. Perkenalan dilakukan dengan suasana santai dan komunikatif agar siswa merasa nyaman dan tidak tegang selama proses pembelajaran berlangsung. Respons peserta didik terlihat sangat baik; beberapa siswa bahkan aktif mengajukan pertanyaan sederhana seperti, “Kakak dari mana?” dan “Hari ini belajar apa?” Interaksi tersebut menjadi awal yang baik untuk membangun kedekatan sekaligus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.Pada tahap apersepsi, kami mengajukan beberapa pertanyaan ringan terkait materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam, seperti pengalaman mereka dalam membaca Al-Qur’an serta pemahaman dasar mengenai hukum tajwid, khususnya nun mati dan tanwin. Pertanyaan tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan awal peserta didik sebelum materi disampaikan. Beberapa siswa tampak percaya diri menjawab pertanyaan, sementara yang lain masih malu-malu namun tetap memperhatikan penjelasan dengan baik. Dari kegiatan apersepsi tersebut, kami mulai membangun motivasi belajar siswa dengan menyampaikan bahwa pembelajaran hari ini akan dilakukan menggunakan media yang lebih menarik dan interaktif. Penyampaian tujuan pembelajaran dilakukan secara sederhana dan komunikatif agar mudah dipahami oleh seluruh peserta didik di kelas.Pembelajaran dimulai dalam suasana hangat di SD Al-Ikhlas. Saat kami masuk ke kelas, para siswa tampak penasaran melihat laptop dan media presentasi yang akan digunakan. Setelah kelas tenang, salah satu dari kami membuka kegiatan dengan salam yang langsung dijawab serempak oleh seluruh siswa. Kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama, sesuai kebiasaan sekolah, dipandu oleh guru pendamping. Setelah doa, kami memperkenalkan diri satu per satu dengan gaya santai dan komunikatif agar siswa merasa nyaman. Responsnya sangat baik; beberapa siswa bahkan aktif bertanya, misalnya, “Kakak dari mana?” dan “Hari ini belajar apa?” Interaksi ini menjadi awal yang efektif untuk membangun kedekatan dan suasana belajar menyenangkan.Pada tahap apersepsi, kami mengajukan beberapa pertanyaan ringan terkait Pendidikan Agama Islam, misalnya pengalaman membaca Al-Qur’an dan pemahaman dasar tentang hukum tajwid, khususnya nun mati dan tanwin. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan awal siswa sebelum materi disampaikan. Beberapa siswa menjawab dengan percaya diri, sementara yang lain malu-malu namun tetap memperhatikan. Dari apersepsi ini, kami mulai membangkitkan motivasi belajar dengan menginformasikan bahwa pembelajaran hari ini akan menggunakan media yang lebih menarik dan interaktif. Tujuan pembelajaran disampaikan secara sederhana dan komunikatif agar mudah dipahami semua peserta di kelas.

2. Kegiatan inti

a. Penyampaian Materi Menggunakan Media ICTMemasuki sesi inti, media pembelajaran mulai ditayangkan melalui Smart TV yang tersedia di kelas SD Al-Ikhlas. Kegiatan belajar dibuka dengan pemutaran PPT interaktif yang telah kami siapkan sebelumnya. Materi pada PPT membahas tentang akhlak mahmudah atau perilaku terpuji, seperti disiplin, jujur, tolong-menolong, dan hormat kepada orang tua. Setiap topik disajikan menggunakan tampilan visual yang menarik berupa gambar, warna yang cerah, animasi sederhana, serta contoh perilaku sehari-hari agar peserta didik lebih mudah memahami pesan yang disampaikan.

Antusiasme peserta didik terlihat jelas saat PPT mulai ditampilkan. Banyak siswa memperhatikan layar dengan seksama, terutama ketika muncul ilustrasi perilaku positif yang sering mereka temui di sekolah maupun di rumah. Para peserta didik mulai memberikan komentar sederhana, seperti menyebutkan contoh kebiasaan disiplin atau pengalaman mereka ketika membantu teman. Suasana kelas menjadi lebih hidup karena materi yang diberikan merasa dekat dengan pengalaman mereka sehari-hari.Dalam setiap penjelasan materi, kami menyampaikan tambahan informasi menggunakan bahasa yang sederhana dan sesuai dengan tingkat pemahaman peserta didik sekolah dasar. Kami juga mengajak siswa berdiskusi ringan, misalnya dengan menanyakan bagaimana cara menunjukkan sikap hormat kepada orang tua atau bagaimana menjaga kejujuran saat bermain bersama teman. Interaksi ini membuat proses pembelajaran lebih dinamis, tidak hanya satu arah, tetapi juga melibatkan siswa secara aktif.Setelah seluruh materi selesai dipaparkan, kegiatan dilanjutkan dengan permainan edukatif menggunakan Wordwall. Permainan tersebut berisi pertanyaan sederhana mengenai contoh perilaku akhlak mahmudah dan cara menerapkannya. Peserta didik terlihat sangat antusias ketika permainan dimulai. Mereka berlomba-lomba menjawab pertanyaan yang muncul di layar Smart TV dan tampak semakin percaya diri saat menyampaikan jawaban. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memahami konsep secara teori, tetapi juga belajar menerapkan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari melalui aktivitas yang menyenangkan dan interaktif.

b. Tes Pemahaman Peserta DidikTes Pemahaman Peserta DidikSetelah pemaparan materi mengenai akhlak mahmudah selesai, kami melaksanakan sesi tanya jawab singkat untuk menilai tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah dipelajari. Beberapa siswa yang dipilih secara acak diberikan pertanyaan sederhana, seperti “Apa yang dimaksud dengan akhlak mahmudah?”, “Mengapa kita harus selalu berkata jujur?”, atau “Bagaimana cara menunjukkan sikap tolong-menolong kepada teman?” Pertanyaan dirancang sesuai dengan kemampuan berpikir peserta didik. Untuk siswa kelas bawah, pertanyaan dibuat lebih mudah dan langsung pada contoh perilaku sehari-hari, sementara siswa kelas atas diberikan pertanyaan yang lebih luas dan mendalam terkait penerapan sikap terpuji dalam kehidupan mereka.

c. Pelaksanaan Game Edukatif WordwallKegiatan yang paling ditunggu oleh peserta didik adalah sesi permainan edukatif menggunakan Wordwall. Sebelum permainan dimulai, peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang heterogen, terdiri dari gabungan siswa kelas atas dan kelas bawah agar mereka dapat saling membantu memahami materi. Proses pembagian kelompok dilakukan secara menyenangkan sehingga suasana kelas menjadi semakin hidup dan penuh antusiasme.Game Wordwall yang digunakan berisi soal-soal sederhana mengenai materi akhlak mahmudah, misalnya memilih contoh perilaku terpuji, mencocokkan gambar dengan jenis sikap positifnya, serta menentukan tindakan baik dalam berbagai situasi sehari-hari. Karena keterbatasan perangkat, setiap kelompok bermain secara bergiliran dengan memanfaatkan tampilan Wordwall melalui Smart TV, sementara kelompok lain memperhatikan, berdiskusi, dan memberikan dukungan kepada anggota kelompok mereka.Sistem poin diterapkan dalam permainan ini untuk meningkatkan motivasi peserta didik. Setiap jawaban yang benar akan menambah nilai kelompok, dan kelompok yang meraih poin tertinggi diberikan reward sederhana pada akhir kegiatan. Mekanisme ini menciptakan suasana kompetisi yang sehat dan membuat peserta didik semakin bersemangat mengikuti pembelajaran. Beberapa siswa tampak sangat antusias ketika menjawab soal, bahkan mereka spontan berdiskusi untuk menemukan jawaban yang tepat. Siswa kelas atas terlihat memandu anggota kelompoknya, sedangkan siswa kelas bawah tetap aktif berkontribusi dengan memberikan jawaban sederhana.Suasana kelas yang awalnya tenang berubah menjadi lebih aktif dan interaktif. Terdengar gelak tawa, obrolan singkat, serta sorakan penyemangat dari masing-masing kelompok saat mereka berhasil menjawab soal dengan benar. Hal tersebut menunjukkan bahwa kombinasi media PPT interaktif dan permainan Wordwall mampu meningkatkan partisipasi peserta didik selama proses pembelajaran. Selain memahami materi akhlak mahmudah, peserta didik juga belajar bekerja sama, berani mengutarakan pendapat, serta menumbuhkan sikap sportif sepanjang kegiatan berlangsung.

d. Pemberian RewardDi penghujung sesi game, kami mengumumkan kelompok pemenang berdasarkan total poin yang berhasil dikumpulkan. Reward yang kami berikan bersifat sederhana berupa alat tulis kecil dan ucapan apresiasi yang tulus. Meski hadiahnya tidak bernilai mahal, reaksi peserta didik sungguh luar biasa. Kelompok pemenang bersorak kegirangan, sementara kelompok lainnya memberikan tepuk tangan yang meriah tanpa terlihat kecewa berlebihan.

Yang lebih penting dari sekadar hadiah, pemberian reward ini berdampak positif pada motivasi peserta didik secara keseluruhan. Anak-anak yang sebelumnya terlihat pasif pun tampak lebih bersemangat di akhir sesi. Ini mengonfirmasi apa yang disampaikan oleh Deci dan Ryan (2000) dalam teori motivasi intrinsik mereka bahwa pengakuan dan penghargaan, bahkan dalam bentuk yang sangat sederhana, mampu memperkuat keterlibatan dan antusiasme belajar peserta didik secara signifikan.

3. Kegiatan PenutupMenjelang akhir sesi pembelajaran, suasana kelas mulai dikondisikan kembali menjadi lebih tenang. Kami mengajak peserta didik di SD Al-Ikhlas untuk bersama-sama merefleksikan materi yang telah dipelajari pada hari tersebut, yaitu tentang akhlak madzmumah. Beberapa peserta didik dengan percaya diri menyebutkan kembali contoh-contoh perilaku tercela, seperti berkata bohong, iri hati, sombong, dan malas membantu teman. Meskipun masih ada beberapa siswa yang tampak bingung membedakan perilaku baik dan buruk, kegiatan refleksi ini membantu peserta didik mengingat kembali inti materi yang telah dipelajari. Kami kemudian memberikan penjelasan singkat untuk memperjelas poin-poin yang masih belum dipahami oleh peserta didik.Sebelum kegiatan pembelajaran ditutup, kami menyampaikan motivasi sederhana kepada peserta didik mengenai pentingnya memiliki akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Kami menjelaskan bahwa perilaku baik tidak hanya diterapkan di sekolah, tetapi juga di rumah, di lingkungan bermain, maupun ketika berinteraksi dengan orang lain. Peserta didik juga diajak untuk membiasakan sikap jujur, saling menghargai, serta menghindari perilaku yang dapat menyakiti teman maupun orang lain.Kegiatan pembelajaran kemudian diakhiri dengan membaca doa kafaratul majelis bersama yang dipandu oleh guru pendamping, dilanjutkan dengan salam penutup yang dijawab secara kompak dan penuh semangat oleh seluruh peserta didik. Suasana penutupan berlangsung hangat dan menyenangkan, serta menunjukkan bahwa peserta didik mengikuti proses pembelajaran dengan antusias hingga akhir kegiatan.

C. Hasil Observasi

Kegiatan penerapan media Wordwall pada materi Akidah Akhlak terlaksana secara efektif dan tanpa kendala. Pada tahap prapembelajaran, praktikan telah menyiapkan permainan interaktif dengan memilih template yang relevan serta memastikan kesiapan teknis perangkat. Selain itu, kondisi kelas dikelola secara kondusif sebelum praktikan menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan panduan mengenai mekanisme permainan di platform tersebut.Kelas yang menjadi sasaran kegiatan kami ini terdiri dari 8 murid. Dalam pelaksanaannya, praktikan mengajak 5 murid yang berkeinginan untuk maju ke depan kelas secara bergantian guna mempraktikkan langsung penggunaan media Wordwall. Kelima murid tersebut diminta menjawab soal yang tampil pada layar di hadapan teman-temannya, sementara murid yang lain menyaksikan dan turut menjawab secara lisan dari tempat duduk masing-masing. Selama kegiatan, anak-anak terlihat sangat antusias dan aktif berpartisipasi. Murid yang maju ke depan tampak bersemangat dan percaya diri saat menjawab soal di layar. Sementara itu, murid yang duduk di bangku juga tidak tinggal diam; mereka fokus memperhatikan dan ikut larut dalam keseruan permainan. Di sini, praktikan selalu mendampingi kelas dan langsung membantu memberikan arahan jika ada murid yang bingung atau kesulitan menggunakan Wordwall.Penggunaan media Wordwall ini mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan. Murid terlihat lebih antusias mengikuti pembelajaran karena proses belajar dilakukan melalui permainan edukatif berbasis digital dengan tampilan yang menarik. Selain itu, media Wordwall membantu murid lebih mudah memahami materi Akidah Akhlak karena penyajiannya yang interaktif dan disertai umpan balik langsung dari sistem.

D. Kendala dan Solusi

Dalam pelaksanaan kegiatan terdapat beberapa kendala. Tidak semua murid mendapat kesempatan maju karena hanya 5 dari 8 murid yang dipilih untuk mempraktikkan langsung media Wordwall di depan kelas. Selain itu, beberapa murid yang maju masih memerlukan bimbingan dari praktikan dalam mengoperasikan platform, khususnya dalam memilih jawaban sebelum batas waktu habis.Keterbatasan waktu pembelajaran juga menjadi kendala tersendiri karena praktikan perlu menyesuaikan waktu antara penyampaian materi, pelaksanaan permainan Wordwall, dan sesi pembahasan hasil kegiatan.Namun demikian, kendala tersebut dapat diatasi melalui pendampingan aktif dari praktikan selama kegiatan berlangsung, sehingga proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik dan kondusif.Berdasarkan kendala yang ditemukan selama pelaksanaan kegiatan, terdapat beberapa solusi yang dapat diterapkan agar pembelajaran ke depannya berjalan lebih optimal. Terkait kendala tidak semua murid mendapat kesempatan maju, solusi yang dapat dilakukan adalah dengan membagi murid ke dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian setiap kelompok mengirimkan satu perwakilan secara bergantian di setiap sesi permainan. Dengan cara ini, seluruh murid tetap merasa terlibat secara aktif karena mereka ikut bertanggung jawab atas penampilan kelompoknya. Selain itu, praktikan juga dapat memanfaatkan fitur berbagi tautan atau kode akses pada platform Wordwall, sehingga murid yang belum sempat tampil di depan kelas tetap memiliki kesempatan untuk mencoba secara mandiri, baik di sekolah maupun di rumah.Adapun kendala mengenai murid yang masih memerlukan bimbingan dalam mengoperasikan platform, solusi yang dapat diterapkan adalah dengan menyisipkan sesi pengenalan singkat sebelum permainan dimulai. Praktikan dapat memandu murid mengenal tampilan antarmuka Wordwall secara sederhana, seperti menunjukkan letak tombol jawaban dan menjelaskan cara kerja batas waktu yang tersedia. Langkah kecil ini terbukti cukup efektif untuk mengurangi kebingungan murid saat menghadapi platform secara langsung. Di samping itu, praktikan juga dapat menunjuk beberapa murid yang lebih cepat memahami sebagai pendamping teman sebayanya, karena pendekatan antar sesama murid seringkali lebih mudah diterima dan dipahami.Sementara itu, untuk mengatasi keterbatasan waktu pembelajaran, praktikan perlu menyusun alur kegiatan yang lebih terstruktur sejak awal dengan menetapkan pembagian waktu yang jelas antara penyampaian materi, pelaksanaan permainan, dan sesi pembahasan. Dengan adanya patokan waktu yang pasti, praktikan dapat mengelola jalannya kegiatan secara lebih terarah tanpa harus tergesa-gesa di penghujung sesi. Khusus pada sesi pembahasan, praktikan cukup memfokuskan diskusi pada soal-soal yang paling banyak dijawab keliru oleh murid, karena justru di situlah letak pembelajaran yang paling bermakna dan perlu mendapat perhatian lebih.Secara keseluruhan, kendala-kendala yang muncul selama kegiatan sejatinya bukan menjadi penghambat yang berarti, melainkan menjadi bahan evaluasi yang berharga bagi praktikan untuk terus memperbaiki kualitas pembelajaran. Dengan pendampingan yang aktif dan persiapan yang lebih matang, proses pembelajaran menggunakan media Wordwall diyakini dapat berjalan lebih lancar dan memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan bagi seluruh murid.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kegiatan observasi pembelajaran berbasis ICT yang dilaksanakan di SD Al-Ikhlas Surabaya pada tanggal 8 Mei 2026 berjalan dengan baik dan memberikan banyak pengalaman berharga bagi praktikan. Pembelajaran materi Akhlak Madzmumah menggunakan kombinasi media PPT interaktif dan platform game edukatif Wordwall terbukti mampu menciptakan suasana belajar yang lebih aktif, menyenangkan, dan bermakna bagi peserta didik.Penerapan model Game Based Learning melalui Wordwall berhasil meningkatkan antusias dan partisipasi murid selama proses pembelajaran berlangsung. Peserta didik yang sebelumnya terbiasa dengan pembelajaran konvensional menunjukkan respons yang sangat positif ketika diperkenalkan dengan media berbasis digital. Hal ini terlihat dari tingginya semangat murid saat sesi permainan berlangsung, aktifnya diskusi antar kelompok, serta munculnya keberanian murid dalam menjawab pertanyaan di depan kelas.Meskipun terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaannya, seperti tidak semua murid mendapat giliran maju, perlunya bimbingan dalam pengoperasian platform, dan keterbatasan waktu, kendala-kendala tersebut berhasil diatasi melalui pendampingan aktif dari praktikan. Secara keseluruhan, penggunaan media Wordwall dalam pembelajaran Akidah Akhlak terbukti efektif dalam membantu peserta didik memahami materi sekaligus menumbuhkan nilai-nilai karakter yang baik melalui proses belajar yang menyenangkan dan interaktif.

B. Saran

Berdasarkan hasil observasi dan refleksi selama kegiatan berlangsung, terdapat beberapa saran yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk perbaikan ke depannya. Bagi praktikan, diharapkan dapat mempersiapkan alur kegiatan pembelajaran yang lebih terstruktur dan terencana, termasuk pembagian waktu yang jelas pada setiap tahapan kegiatan. Pengenalan singkat mengenai cara penggunaan platform Wordwall sebaiknya disisipkan sebelum sesi permainan dimulai agar seluruh murid dapat mengikuti kegiatan dengan lebih mandiri dan percaya diri. Selain itu, pembagian kelompok yang merata dan sistem giliran yang adil perlu diperhatikan agar seluruh peserta didik mendapat kesempatan yang sama untuk terlibat secara aktif.Bagi guru dan pihak sekolah, hasil observasi ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif dan berbasis teknologi. Penggunaan media interaktif seperti Wordwall dapat menjadi alternatif yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang sering kali dianggap bersifat hafalan semata. Dukungan fasilitas yang memadai, seperti ketersediaan perangkat dan koneksi internet yang stabil, juga perlu menjadi perhatian agar pelaksanaan pembelajaran berbasis ICT dapat berjalan lebih optimal.Bagi peserta didik, diharapkan agar terus mengembangkan semangat belajar dan keberanian dalam mengikuti setiap kegiatan pembelajaran, termasuk saat menggunakan media berbasis teknologi. Keterlibatan aktif peserta didik merupakan kunci keberhasilan pembelajaran yang bermakna, bukan hanya dalam konteks nilai atau poin permainan, tetapi juga dalam hal pemahaman dan penerapan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply