Guru sebagai teladan spiritual

Pemakalah: Nabilatus Salsabila

Moderator: Indina Ulil Fasya

Notulen: Rosita Nur rohmah

Penanya: Achmad Rijalul Fikri

1.Apakah spiritual seseorang itu hanya ada pada seorang guru?Tidak. Spiritualitas tidak hanya dimiliki oleh guru, tetapi merupakan potensi yang ada pada setiap manusia. Dalam perspektif pendidikan Islam, setiap individu memiliki fitrah untuk mengenal dan mendekat kepada Allah. Guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan teladan dalam mengembangkan potensi spiritual tersebut. Jadi, spiritualitas itu bersifat universal, bukan eksklusif milik guru.

2. Bagaimana jika guru tersebut tidak mempunyai ilmu yang tinggi?Sikap yang tepat adalah mengambil sisi positifnya. Sebagaimana kaidah: “Unzhur mā qāla wa lā tandhur man qāla” (lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan).Artinya, meskipun ilmunya terbatas, jika ada kebaikan, akhlak, atau nilai yang bisa diambil, maka tetap layak dijadikan pelajaran. Namun, tetap perlu selektif agar tidak mengikuti hal yang keliru.

3. Apa batasan kita ketika menjadikan guru sebagai role model/suri teladan?Batasannya adalah tidak menjadikan guru sebagai figur yang “sempurna” tanpa kritik. Dalam Islam, keteladanan utama tetap pada Nabi Muhammad SAW. Guru hanya dijadikan teladan selama perilaku dan ajarannya sesuai dengan nilai agama dan akhlak yang benar.Jika ada hal yang kurang baik, maka tidak perlu diikuti. Jadi, sikap idealnya adalah menghormati tanpa mengkultuskan.

4. Bagaimana jika kamu menjadi guru bagi anak usia MI yang masih labil, lalu mereka mengetahui keburukanmu tetapi tetap menjadikanmu role model? Apa yang akan kamu lakukan?Langkah yang akan saya lakukan:Introspeksi dan memperbaiki diri, karena guru adalah figur yang ditiru.Memberikan penjelasan yang jujur dan bijak, bahwa setiap manusia punya kesalahan.Menjadikan momen tersebut sebagai pendidikan karakter, dengan menunjukkan pentingnya taubat, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi kesalahan.Berusaha menjadi teladan yang lebih baik ke depannya, karena pengaruh guru sangat besar pada usia tersebut.Dengan begitu, guru tidak hanya mengajar secara kognitif, tetapi juga memberikan pembelajaran moral yang nyata.

Leave a Reply