ALMAS AQMARINA PUTRI (Pemateri)
FAIZ VERNANDA WILDANIYAH (Moderator)
INDRARESATIKA ISMI SHOLIKHAH
FENTY NUR ANGGRAENI
BACHTIAR YOGA PRATAMA
BELLA NAFISYAH
AKHMAD FALIKHUL ISBAH
FAIZAL LUQMANUL HAKIM
ANGGITA PUTRI FAUZAN
AHMAD DZUL HILMI
AISYAH KARUNIA RAMADHANI
AHMAD HUSEIN AL IHSAN
ANNISA’ ZHAFIRAH HAIDAR
ERSYA LAILA MAGHFIRAH (Notulen)
AHMAD AZZAM AYYASY
EVELYN TRIANITA HIKMALIA
Pertanyaan 1 (ANNISA’ ZHAFIRAH HAIDAR) :Di era digital saat ini, banyak guru menggunakan platform seperti CBT dan Google Form dalam penilaian PAI. Menurut Anda, seberapa efektif platform tersebut dalam mengukur kemampuan evaluatif (C5) peserta didik? Apakah penggunaan teknologi ini benar-benar mampu mengurangi subjektivitas penilaian, atau justru menimbulkan tantangan baru?Jawaban: Biasanya penggunaan platform seperti Google Form sering kali digunakan untuk soal pilihan ganda yang cenderung hanya menyentuh level C1 hingga C3. Sangat sulit mengukur kedalaman argumen etis atau moral siswa hanya melalui opsi A, B, atau C. Namun, Penggunaan Platform tersebut dapat menyentuh Level C5 jika guru mampu menyusun soal esai terstruktur atau studi kasus yang mengharuskan siswa mengetikkan argumen kritis di kolom jawaban, platform ini tetap bisa menjadi media yang valid. Namun, pengecekan tetap membutuhkan sentuhan manusia (manual grading).
Pertanyaan 2 (EVELYN TRIANITA HIKMALIA) :Dalam materi disebutkan bahwa penilaian kognitif tidak hanya tes tertulis, tetapi juga bisa menggunakan proyek, portofolio, atau tugas. Menurut pemateri, dalam pembelajaran PAI contoh proyek apa yang bisa digunakan agar siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga berpikir kritis tentang ajaran IslamJawaban:Guru bisa menggunakan proyek “Studi Kelayakan Zakat/Infaq” (dalam Materi Fiqh Muamalah). Guru bisa memberikan siswa tugas untuk melakukan survei kecil di lingkungan sekitar atau panti asuhan/lembaga amil zakat. Siswa akan mengevaluasi apakah penyaluran zakat selama ini sudah bersifat produktif (mengangkat martabat ekonomi) atau hanya konsumtif (habis seketika). Mereka harus merancang strategi penyaluran yang lebih berkelanjutan. Tujuannya agar Siswa tidak hanya bisa menghitung nominal zakat, tapi menguji efektivitas penyalurannya.
Kesimpulan: Penilaian PAI akan lebih bermakna jika tidak hanya menggunakan tes tertulis, tetapi juga proyek kontekstual seperti studi kelayakan zakat agar siswa mampu berpikir kritis dan evaluatif (C5). Platform digital seperti CBT dan Google Form bisa membantu penilaian lebih objektif dan efisien, namun efektivitasnya bergantung pada desain soal. Jika hanya pilihan ganda, kemampuannya terbatas; jika berbentuk studi kasus atau esai, tetap bisa mengukur berpikir kritis meski memerlukan penilaian manual dari guru.