Muhammad Rafi Nahwal FirdausiUniversitas Islam Negeri Sunan Ampel SurabayaEmail: rafinahwalfirdausi@gmail.com0604024184@student.uinsby.ac.id—AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses internalisasi nilai religius melalui keteladanan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi, yang berfokus pada pengalaman serta pemaknaan siswa terhadap perilaku guru. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa keteladanan guru memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk sikap religius siswa, terutama melalui praktik langsung seperti kedisiplinan dalam beribadah, sikap sopan santun, serta interaksi sosial yang mencerminkan nilai-nilai Islam. Namun, terdapat kendala berupa kurangnya konsistensi guru dalam memberikan teladan serta pengaruh lingkungan luar sekolah. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan dari guru serta dukungan lingkungan sekolah yang kondusif agar proses internalisasi nilai religius dapat berjalan secara optimal.Kata kunci: Keteladanan guru, nilai religius, PAI, penelitian kualitatif—AbstractThis study aims to examine the process of internalizing religious values through the role modeling of Islamic Education (PAI) teachers in schools. This research uses a qualitative approach with a phenomenological design, focusing on students’ experiences and interpretations of teachers’ behavior. Data were collected through interviews, observations, and documentation.The results show that teacher role modeling plays a significant role in shaping students’ religious attitudes, especially through direct practices such as discipline in worship, politeness, and social interaction reflecting Islamic values. However, obstacles include the lack of teacher consistency and the influence of external environments. Therefore, continuous efforts from teachers and a supportive school environment are needed to optimize the internalization process.Keywords: Teacher role model, religious values, Islamic education, qualitative research—PENDAHULUANPendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan (uswah hasanah) bagi siswa. Keteladanan guru menjadi metode yang efektif karena peserta didik cenderung meniru perilaku yang mereka amati secara langsung.Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran PAI masih cenderung berorientasi pada aspek kognitif. Akibatnya, proses internalisasi nilai religius belum berjalan optimal. Siswa sering kali hanya memahami ajaran agama secara teoritis tanpa diimbangi dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan ideal pendidikan agama dengan praktik di lapangan (Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam).Dalam perspektif pendidikan Islam, keteladanan merupakan metode fundamental dalam pembentukan karakter, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai uswah hasanah. Oleh karena itu, guru PAI diharapkan mampu menginternalisasikan nilai-nilai religius tidak hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui perilaku nyata yang dapat diamati dan ditiru oleh siswa (Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam).Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji proses internalisasi nilai religius melalui keteladanan guru PAI serta bagaimana siswa memaknai dan merespons keteladanan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.—METODE PENELITIANPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Pendekatan ini bertujuan untuk memahami secara mendalam proses internalisasi nilai religius melalui keteladanan guru PAI.Penelitian bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan fenomena yang terjadi terkait peran keteladanan guru dalam menanamkan nilai religius pada siswa. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai teknik utama pengumpulan data.Subjek penelitian meliputi guru PAI dan siswa sebagai informan yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Pemilihan informan dilakukan secara purposive berdasarkan relevansi dengan fokus penelitian.Analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode.—PEMBAHASANPengertian Kompetensi GuruDalam ajaran Islam, akhlak merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam hubungan dengan sesama. Akhlak tercela seperti berkata tidak jujur, bersikap kasar, iri hati, dan tidak menghargai orang lain merupakan perilaku yang harus dihindari. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku peserta didik agar mampu menjauhi akhlak tersebut.Dalam konteks PAI, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan bagi siswa. Keteladanan guru menjadi cara efektif dalam membentuk perilaku siswa karena peserta didik cenderung meniru apa yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.Upaya menghindari akhlak tercela dapat dilakukan melalui pembiasaan perilaku positif yang dicontohkan oleh guru, seperti berkata jujur, bersikap sopan, saling menghargai, dan menjaga etika dalam berinteraksi. Ketika guru menunjukkan konsistensi dalam perilaku tersebut, siswa akan lebih mudah meniru dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.Namun, dalam praktiknya masih terdapat berbagai kendala, seperti kurangnya konsistensi guru dalam memberikan teladan serta pengaruh lingkungan luar seperti keluarga dan pergaulan. Hal ini menyebabkan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah tidak selalu diterapkan secara maksimal.Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan dari guru dan dukungan lingkungan sekolah yang kondusif untuk menciptakan budaya religius. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami konsep akhlak yang baik, tetapi juga mampu menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari.—KESIMPULANMenghindari akhlak tercela kepada sesama merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik dalam Pendidikan Agama Islam. Perilaku seperti tidak jujur, kasar, iri hati, dan tidak menghargai orang lain perlu dicegah melalui pendidikan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis.Guru PAI memiliki peran penting sebagai teladan dalam menanamkan nilai-nilai tersebut. Melalui keteladanan dan pembiasaan, siswa dapat lebih mudah memahami dan mengimplementasikan nilai religius dalam kehidupan sehari-hari. Namun, keberhasilan tersebut dipengaruhi oleh konsistensi guru serta dukungan lingkungan sekolah dan keluarga.Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dari semua pihak untuk menciptakan lingkungan yang kondusif agar peserta didik mampu menghindari akhlak tercela dan membiasakan perilaku sesuai dengan nilai-nilai Islam.—DAFTAR PUSTAKARamayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.