Ada beberapa pertanyaan pada pertemuan ke 7 hari ini

Pertanyaan : Dalam konteks generasi sekarang yang cenderung digital dan instan, apakah metode penilaian psikomotorik tradisional masih efektif? lalu jika penilaian psikomotorik hanya dilakukan di sekolah, bagaimana kita bisa memastikan bahwa praktik ibadah siswa itu benar-benar menjadi kebiasaan, bukan sekadar “pencitraan saat dinilai”? (FENTY NUR ANGGRAENI)

Jawaban : Metode tradisional terserbut kurang efektif bagi generasi digital karena cenderung memicu perilaku artifisial atau “pencitraan” sesaat. Untuk memastikan ibadah menjadi kebiasaan nyata, penilaian psikomotorik harus bertransformasi menjadi penilaian autentik berbasis ekosistem. Artinya, penilaian tidak boleh hanya mengandalkan pantauan guru di sekolah, melainkan harus melibatkan kolaborasi dengan orang tua melalui buku kendali digital atau aplikasi pemantauan harian. Dengan cara ini, fokus evaluasi bergeser dari sekadar “ketepatan gerak” menjadi “konsistensi perilaku” di rumah. Jika aspek psikomotorik ini dibarengi dengan penguatan pemahaman batin (afektif), maka ibadah akan dilakukan sebagai kebutuhan spiritual, bukan sekadar untuk mengejar nilai rapor.

Pertanyaan : jika contoh nyata yg ketahui di media sosial, terutama masa kini gen z yg me record konsep pembelajaran di kelas. bisa dicontohkan bagaimana kita mengambil langkah dan opsi jika di lapangan nemu siswa yg memisahkan diri dengan yg lain, bukan minder tapi suka menyendiri dan dasarnya memiliki kecerdasan yg melampauin batas. jika ada siswa yg demikian, kiranya kontribusi di kelompok gimana? bandingkan juga dengan afektif dll (AISYAH KARUNIA RAMADHANI)

Jawaban : Menghadapi siswa gifted yang suka menyendiri bisa dilakukan dengan pendekatan fungsional, bukan paksaan sosial. Berikan dia peran di balik layar sebagai konseptor atau penyusun materi inti agar dia tetap berkontribusi besar tanpa tekanan interaksi yang berlebihan. Biarkan dia menjadi “otak” kelompok yang melakukan riset mendalam atau teknis digital, sementara teman lainnya bertindak sebagai pelaksana lapangan atau pembicara. Secara perbandingan, siswa ini memiliki kognitif dan psikomotorik yang sangat tinggi, namun aspek afektif (sosial) yang unik. Penilaian harus difokuskan pada kualitas hasil kerjanya, bukan pada seberapa banyak dia mengobrol. Intinya, hargai kecerdasannya sebagai aset kelompok dengan cara membiarkannya bekerja sesuai kenyamanannya.

Jadi Kesimpulannya Ranah psikomotorik dalam PAI merupakan penilaian yang menekankan pada keterampilan nyata peserta didik dalam mengamalkan ajaran Islam, seperti praktik wudu, salat, dan membaca Al-Qur’an.

Teknik penilaiannya:

  1. produk
  2. praktik langsung
  3. observasi
  4. proyek

Leave a Reply