Nama: Hisyam Rabbani Alamsyah
NIM: 06020125105
Kelompok 10 “Kepribadian, Karakter dan Akhlak dalam Pendidikan Islam”:
Setelah mempelajari materi ini, saya jadi lebih paham bahwa kepribadian, karakter, dan akhlak memang saling berkaitan tetapi punya peran yang berbeda. Kepribadian adalah ciri khas diri secara keseluruhan, karakter adalah nilai yang tertanam, dan akhlak adalah perilaku nyata yang mencerminkan nilai tersebut. Contoh mahasiswa yang mengerjakan tugas sendiri tanpa menyalin pekerjaan teman terasa sangat dekat dengan kehidupan saya. Dari situ saya sadar bahwa kejujuran bukan hanya soal tahu bahwa menyontek itu salah, tetapi soal memilih untuk tidak melakukannya, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.Hal lain yang menarik bagi saya adalah bahwa karakter tidak bisa dibentuk dengan pembiasaan saja. Pembiasaan dan keteladanan memang penting sebagai latihan dan contoh nyata, tetapi tanpa pemahaman, kontrol diri, dan kesadaran dari dalam, kebaikan bisa berhenti menjadi sekadar rutinitas atau takut dihukum. Kontrol diri, misalnya saat marah atau diajak berbuat curang, mengingatkan saya untuk berhenti sejenak dan berpikir sebelum bertindak. Saya juga merasa konsep tazkiyat al-nafs dan muhasabah sangat relevan, karena mengajak kita jujur mengenali kekurangan diri seperti mudah marah atau iri hati, lalu memperbaikinya sedikit demi sedikit.Ke depan, saya ingin menerapkan materi ini lewat hal-hal kecil yang konsisten, seperti datang tepat waktu, mengerjakan tugas dengan jujur, berbicara sopan, dan mengevaluasi diri di akhir hari. Saya belajar bahwa akhlak yang baik tidak muncul secara instan, tetapi dibentuk dan dirawat setiap hari. Memperbaiki diri tidak berarti harus langsung sempurna, yang terpenting adalah terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, baik di rumah, kampus, maupun masyarakat.
Kelompok 11 “Analisis Emosi, Regulasi Diri, dan Student Well-Being serta Intervensi Pedagogis serta Pendekatan Spiritual Perspektif Islam”:
Materi ini membuka mata saya bahwa kesulitan belajar tidak selalu berasal dari kurangnya kemampuan. Kasus Ahmad menunjukkan bagaimana satu nilai buruk bisa memicu lingkaran yang sulit diputus: ia menganggap dirinya tidak mampu, menunda belajar, waktunya makin sempit, lalu kecemasannya makin besar. Saya pun pernah merasakan pola serupa saat menghadapi ujian. Dari sini saya paham bahwa emosi, regulasi diri, stres, self-esteem, dan resilience saling memengaruhi dan menentukan student well-being. Karena itu, kondisi batin siswa perlu mendapat perhatian yang sama besarnya dengan capaian akademiknya.Bagian yang paling saya perhatikan adalah pembahasan batas peran guru dan psikolog klinis. Guru memang dekat dengan siswa dan bisa menciptakan kelas yang aman, melatih regulasi emosi dasar, serta memberi umpan balik yang membangun. Namun guru tidak boleh mendiagnosis atau memberi terapi, sehingga langkah yang tepat adalah merujuk ketika gejala siswa sudah berat. Di sisi lain, pendekatan spiritual seperti dzikir, sabar, dan tawakal terasa sangat relevan. Firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28 mengingatkan bahwa mengingat Allah menenangkan hati. Meski begitu, makalah ini menegaskan bahwa pendekatan spiritual hanya menguatkan, bukan menggantikan bantuan profesional.Sebagai calon pendidik, saya ingin membawa pelajaran ini ke praktik nyata. Saya akan belajar menjadi pendengar yang tidak cepat menghakimi, membantu siswa memecah target belajar menjadi langkah kecil yang realistis, dan peka terhadap tanda-tanda yang perlu dirujuk. Saya juga akan menjadikan nilai spiritual sebagai penopang, bukan jalan pintas. Bagi saya, mendampingi siswa berarti memperhatikan akal, hati, dan keadaan emosinya sekaligus, dengan sadar akan batas kemampuan diri sendiri.Kalau mau, saya bisa membuat versi yang lebih singkat atau lebih formal.