Kelompok 10. Refleksi Materi Kepribadian, Karakter, dan Akhlak dalam Pendidikan Islam
Setelah mempelajari materi ini, saya menyadari bahwa kepribadian, karakter, dan akhlak merupakan tiga hal yang saling berkaitan dalam membentuk diri seseorang. Menjadi pribadi yang baik tidak cukup hanya dengan mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga harus diwujudkan melalui perilaku sehari-hari. Misalnya, bersikap jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan berani mengakui kesalahan.
Saya juga memahami bahwa pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui pembiasaan, tetapi membutuhkan keteladanan, kontrol diri, dan kesadaran dari dalam diri. Sebagai mahasiswa sekaligus calon guru Pendidikan Agama Islam, saya belajar bahwa mendidik tidak hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga memberikan contoh nyata melalui sikap dan perilaku.
Selain itu, konsep tazkiyat al-nafs mengajarkan saya untuk terus mengevaluasi diri, mengenali kekurangan, serta berusaha memperbaiki sifat dan perilaku menjadi lebih baik.Melalui materi ini, saya menyadari bahwa memperbaiki diri merupakan proses yang membutuhkan konsistensi dan tidak bisa dilakukan secara instan. Bagi saya, keberhasilan pendidikan Islam bukan hanya ketika seseorang memahami ajaran agama, tetapi ketika nilai-nilai tersebut benar-benar tercermin dalam akhlak dan tindakan sehari-harinya.
Kelompok 11.Refleksi Emosi, Regulasi diri, dan student well being
Setelah mempelajari materi tentang analisis emosi, regulasi diri, dan student well-being, saya menyadari bahwa keberhasilan belajar siswa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi emosional, kepercayaan diri, dan kemampuan mengelola diri. Seperti contoh kasus Ahmad dalam presentasi, kecemasan akibat kegagalan dapat membuat siswa kehilangan kepercayaan diri dan menunda belajar, sehingga masalah yang dihadapi semakin besar.
Dari materi ini, saya belajar bahwa sebagai calon guru Pendidikan Agama Islam, kita tidak cukup hanya berfokus pada penyampaian materi dan pencapaian nilai siswa, tetapi juga perlu memahami kondisi mereka, memberikan dukungan, serta menciptakan suasana belajar yang nyaman. Saya juga memahami pentingnya mengetahui batas peran guru, yaitu memberikan pendampingan edukatif tanpa mengambil alih tugas tenaga profesional ketika siswa membutuhkan penanganan psikologis. Selain itu, nilai-nilai Islam seperti dzikir, sabar, dan tawakal dapat menjadi penguatan spiritual dalam menghadapi tekanan akademik.
Bagi saya, menjadi seorang guru bukan hanya tentang membantu siswa menjadi pintar, tetapi juga mendampingi mereka agar mampu menghadapi kesulitan, membangun kepercayaan diri, dan berkembang secara emosional maupun spiritual. Materi ini mengajarkan saya bahwa setiap siswa tidak hanya membutuhkan pendidikan untuk pikirannya, tetapi juga perhatian terhadap perasaan dan pembentukan karakternya.