KELOMPOK 1
Profil Tenaga Pendidik
Judul: Guru sebagai motivator

  1. Di makalah ada 2 unsur motivasi eksternal dan internal. Menurut anda yg mana motivasi yg lebih dominan pada peserta didik? (Abdillah)
  2. Tadi faktor motivasi siswa, salah satunya reward . Apakah terlalu sering mendapat reward itu akan membuat siswa kehilangan motivasi belajar? (Ghaitsha)
  3. bagaimana hubungan motivasi dengan keberhasilan pembelajaran dikelas? (Elsa)
    Kesimpulan:
    Teori motivasi belajar menjelaskan dorongan internal dan eksternal yang memengaruhi perilaku belajar siswa. Motivasi dipengaruhi faktor internal (minat, kebutuhan, kesiapan, psikologis) dan eksternal (keluarga, sekolah, teman, peran guru). Guru berperan sebagai motivator dengan menerapkan strategi seperti menjelaskan tujuan, menumbuhkan minat, menciptakan suasana kondusif, serta memberikan penguatan dan penilaian membangun untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.

2 thoughts on “Notulensi Kelompok 1 Kelas A PAI/4

  1. Izin mengajukan beberapa pertanyaan kepada pemateri, Karna keterbatasan waktu pada saat kuliah online kemarin

    1. Apakah konsep “persaingan dalam belajar” masih relevan diterapkan dalam pendidikan yang menekankan kolaborasi dan pembelajaran berbasis proyek?
    2. Bagaimana guru dapat menjaga keseimbangan antara memberikan apresiasi (reward) dan membangun kemandirian belajar siswa?

    1. Baik, terimakasih atas pertanyaannya, saya izin menjawab pertanyaan dari mbak jannah, yang pertama: Konsep persaingan dalam belajar itu masih relevan diterapkan dalam pembelajaran, tetapi perlu disesuaikan dengan pendekatan pendidikan modern yang menekankan pada kolaborasi dan pembelajaran berbasis proyek. Persaingan tidak lagi berorientasi pada perbandingan nilai individu, tetapi diarahkan pada perkembangan diri, kualitas kontribusi, serta kemampuan berpikir kreatif dan memecahkan masalah. Dalam konteks ini, persaingan dapat dikemas dalam bentuk kompetisi sehat antar kelompok, di mana setiap tim berusaha menghasilkan ide dan solusi terbaik. Sementara itu, di dalam kelompok tetap dibutuhkan kolaborasi yang kuat agar tujuan bersama dapat tercapai. Dengan desain yang tepat, persaingan justru dapat meningkatkan motivasi belajar tanpa merusak kerja sama.
      Dengan demikian, persaingan tidak dihilangkan, tetapi diarahkan ulang agar sejalan dengan nilai-nilai kolaboratif dalam pembelajaran masa kini.

      Yang kedua: Guru bisa menjaga keseimbangan dengan menggeser fungsi reward dari sekadar hadiah menjadi alat pembelajaran. Seperti, apresiasi tetap diberikan, tetapi tidak berlebihan dan tidak membuat siswa ketergantungan.
      Caranya, guru lebih menekankan pada proses pembelajaran dari pada hasilnya, misalnya memberi apresiasi pada usaha, konsistensi, dan strategi belajar siswa, bukan hanya pada nilai akhir saja. Selain itu, reward juga sebaiknya bersifat bertahap dan dikurangi perlahan, agar siswa belajar termotivasi dari dalam dirinya sendiri, bukan karena faktor luar seperti hadiah.
      Guru juga perlu membangun refleksi diri, seperti mengajak siswa mengevaluasi pencapaiannya sendiri, sehingga mereka sadar bahwa keberhasilan berasal dari usaha pribadi. Dengan begitu, reward tetap ada sebagai pemicu awal, tetapi kemandirian belajar tetap menjadi tujuan yang utama.

Leave a Reply