hadil diskusi pembahasan :
- Apa bedanya murobbi, mu’allim, muaddib? Jwab: Murobbi adalah pendidik pembina yang membentuk karakter, akhlak, dan perkembangan jiwa secara holistik, mu’allim adalah guru pengajar yang mentransfer ilmu dan keterampilan secara formal, sedangkan muaddib fokus pada pembelajaran adab, etika, dan disiplin perilaku.
- Jika adabnya anak lebih bagus daripada orang tua, apakah orang tua juga termasuk muaddib? jwab: Bisa status “muaddib” ditentukan oleh peran dan usaha mendidik adab, bukan semata hasilnya. Orang tua tetap muaddib jika mereka berupaya mengajarkan adab, memberi teladan, menegakkan disiplin, dan membina sopan santun. Namun, jika adab anak lebih baik karena pengaruh lain (guru, lingkungan, teman, media), itu tidak menghapus peran orang tua sebagai muaddib selama mereka memang berusaha; sebaliknya hal itu bisa jadi panggilan bagi orang tua untuk memperbaiki teladan dan terus belajar menuntun anak.
- Seorang guru dikenal sangat taat beribadah, berakhlak baik, dan dihormati masyarakat. Namun ia kurang menguasai metode pembelajaran, tidak mengikuti perkembangan kurikulum, dan kurang mampu mengelola kelas secara efektif. pertanyaan, Bagaimana pendapat materi tentang hal tersebut dalam memandang hubungan antara keimanan dan kompetensi keilmuan? jwab: Keimanan dan kompetensi keilmuan itu harus berjalan bersama, bukan saling menggantikan. Guru yang taat dan berakhlak baik memang menjadi teladan, tetapi jika tidak menguasai metode mengajar, tidak mengikuti perkembangan kurikulum, dan tidak bisa mengelola kelas, maka proses belajar tidak maksimal. Siswa mungkin hormat, tetapi tidak mendapatkan pembelajaran yang efektif. Dalam pandangan pendidikan, terutama pendidikan Islam, iman seharusnya mendorong seseorang untuk terus meningkatkan ilmu dan profesionalitas. Jadi, keimanan tanpa kompetensi membuat pendidikan kurang efektif, sedangkan kompetensi tanpa iman membuat pendidikan kehilangan nilai. Jadi guru ideal adalah yang memiliki iman kuat sekaligus kompetensi mengajar yang baik, karena keduanya saling melengkapi.
- Bagaimana guru dapat menerapkan sifat hikmah dalam menghadapi peserta didik yang sulit diatur?jwab: Guru dapat menerapkan sifat hikmah dengan bersikap bijak dan tepat dalam menghadapi peserta didik yang sulit diatur. Ia tidak langsung memberi label atau menghukum, tetapi mencari tahu terlebih dahulu penyebab perilaku tersebut. Guru juga harus mampu mengendalikan emosi, menegur dengan cara yang mendidik tanpa mempermalukan, serta menegakkan aturan secara adil dan konsisten. Sikap tegas tetap diperlukan, namun disampaikan dengan kesabaran dan keteladanan, sehingga tujuan tidak hanya untuk menertibkan kelas, tetapi juga membina karakter peserta didik.