MEMILIH METODE YANG TEPAT DALAM RISET

Setiap upaya untuk memajukan pendidikan dimulai dari sebuah pertanyaan. Namun, untuk menemukan jawaban yang bermakna, seorang peneliti tidak bisa asal melangkah. Ia membutuhkan sebuah “Metode” atau rancangan penelitian yang tepat. Coba bayangkan menjadi seorang detektif yang menghadapi sebuah kasus. Apakah akan dimulai dengan mengumpulkan sidik jari dan data statistik (angka), atau mewawancarai saksi mata untuk memahami cerita di balik kejadian (makna)? Atau mungkin, membutuhkan kedua cara tersebut untuk memecahkan kasus secara tuntas?

Dalam jenis penelitian pendidikan, pilihan ini terbagi menjadi tiga metode utama yang masing-masing memiliki kekuatan unik: kuantitatif, kualitatif, dan metode campuran. Memahami ketiganya bukan hanya soal teknis, tetapi soal memilih cara pandang yang paling sesuai untuk mengungkap sebuah fenomena.

METODE KUANTITATIF

metode kuantitatif ini sering dipakai untuk orang dengan keahlian pengukuran yang bekerja seperti seorang arsitek atau surveyor. Fokus utamanya adalah angka, pola, dan pengukuran yang presisi. Jika pertanyaannya adalah “Seberapa besar pengaruh gadget terhadap nilai siswa?” atau “Apakah metode belajar A lebih efektif daripada metode B?”, maka Metode kuantitatif adalah alat yang tepat.

Metode ini didasari oleh cara pandang yang disebut post-positivisme. Sederhananya, para peneliti ini percaya bahwa ada sebuah realitas objektif di luar sana yang bisa diukur, meskipun mungkin tidak akan pernah bisa dipahami secara sempurna. Untuk itu, perlu memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil yang bisa diukur, yang disebut variabel. Teori yang ada tidak diterima begitu saja, melainkan terus diuji untuk melihat apakah teori tersebut bisa bertahan dari upaya penyangkalan. Strategi andalan dalam metode ini adalah survei dan eksperimen.

Survei ini seperti jajak pendapat nasional, digunakan untuk mendapatkan gambaran tren dari populasi yang besar. Sementara itu, eksperimen dirancang untuk melihat hubungan sebab-akibat secara terkontrol, misalnya dengan membandingkan kelompok yang diberi perlakuan khusus dengan kelompok yang tidak. Hasilnya adalah data numerik yang dianalisis secara statistik untuk menghasilkan kesimpulan yang bisa berlaku umum (generalisasi).

METODE KUALITATIF

Metode Kualitatif ini sering dipakai untuk orang dengan keahlian bercerita. Jika pendekatan kuantitatif fokus pada “seberapa banyak” atau “seberapa besar”, pendekatan kualitatif bertanya “mengapa” dan “bagaimana”. Metode ini bekerja seperti seorang antropolog atau jurnalis investigatif yang terjun langsung ke lapangan, hidup bersama subjek penelitiannya, dan berusaha memahami dunia dari sudut pandang mereka. Metode ini dikatakan tepat jika pertanyaannya adalah “Bagaimana siswa memaknai pengalaman belajar dari rumah?” atau “Mengapa sebuah program pendidikan berhasil di satu sekolah tetapi gagal di sekolah lain?”.

Cara pandang ini didasari dengan konstruktivisme, yang meyakini bahwa realitas itu bersifat subjektif dan dibentuk oleh pengalaman setiap individu. Karena itu, tugas peneliti adalah menggali hakekat makna yang beragam ini, bukan mencari satu jawaban tunggal. Peneliti menjadi instrumen utama yang menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen untuk menangkap cerita secara utuh.

Strategi yang digunakan sangat beragam, mulai dari studi kasus (menyelidiki satu “kasus” secara mendalam), etnografi (memahami budaya suatu kelompok), hingga fenomenologi (mengungkap esensi dari sebuah pengalaman). Hasilnya bukanlah berupa angka, melainkan narasi yang kaya dan deskripsi yang tebal serta pemahaman kontekstual yang mendalam.

METODE CAMPURAN

Dunia nyata seringkali terlalu kompleks untuk dipahami hanya dengan satu metode. Di sinilah pendekatan metode campuran hadir sebagai solusi yang menghubungkan keduanya. Pendekatan ini secara sengaja menggabungkan kekuatan angka dari kuantitatif dan kekayaan cerita dari kualitatif dalam satu penelitian. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, di mana kedua jenis data saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain.

Cara pandang ini didasari oleh filsafat pragmatisme, yang pada dasarnya sangat praktis. Bagi seorang pragmatis, perdebatan tentang metode mana yang lebih unggul tidaklah penting. Yang terpenting adalah menggunakan alat apa pun atau kombinasi alat apa pun yang paling efektif untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Misalnya, seorang peneliti bisa memulai dengan survei kuantitatif untuk mengetahui bahwa motivasi siswa menurun (data angka). Kemudian, ia melanjutkannya dengan wawancara kualitatif untuk menggali mengapa motivasi itu menurun (data cerita). Dengan menggabungkan keduanya, kesimpulan yang ditarik menjadi jauh lebih kuat dan komprehensif.

BAGAIMANA MEMILIH METODE YANG TEPAT

Keputusan memilih salah satu dari tiga metode ini bergantung pada tiga hal utama:

Pertanyaan Penelitian

Dengan mengajukan pertanyaan penelitian merupakan kompas utama bagi peneliti. Pertanyaan yang bersifat mengukur dan menguji hubungan sebab-akibat akan menuntun ke Metode kuantitatif. Pertanyaan yang bersifat eksplorasi dan mencari pemahaman makna akan mengarahkan ke Metode kualitatif. Jika butuh keduanya, metode campuran adalah jawabannya.

Keahlian Peneliti

Setiap metode membutuhkan keterampilan yang berbeda. Apakah lebih nyaman dengan analisis statistik atau lebih berbakat dalam melakukan wawancara dan interpretasi narasi? Memilih Metode yang sesuai dengan keahlian akan membuat proses penelitian lebih efektif.

Tujuan Akhir dan Pembaca

Siapa yang akan membaca hasil riset yang dilakukan? Sebuah laporan untuk pembuat kebijakan mungkin membutuhkan data kuantitatif yang solid, sementara sebuah artikel untuk komunitas praktisi mungkin lebih tertarik pada cerita kualitatif yang inspiratif.

Pada akhirnya, tidak ada satu Metode yang superior. Baik kuantitatif, kualitatif, maupun metode campuran merupakan alat berharga dalam kotak perkakas bagi seorang peneliti. Dengan memahami fungsi dan kekuatan masing-masing, nantinya dapat memilih pendekatan yang paling tepat untuk menyinari sudut-sudut dunia pendidikan yang masih gelap, dan pada akhirnya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermanfaat.

REFERENSI

Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (4th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Glaser, B. G., & Strauss, A. L. (1967). The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research. Chicago: Aldine.

Sugiyono. (2017). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

5 thoughts on “Metode Penelitian

  1. sangat luar biasa penjelasannya. Mungkin ada saran bagi seorang mahasiswa atau guru yang masih pemula dalam melakukan dari ketiga metode penelitian tersebut yang baik digunakan untuk penelitian di sekolah yang mana ya? kenapa metode tersebut

    1. sangat luar biasa penjelasannya. Mungkin ada saran bagi seorang mahasiswa atau guru yang masih pemula dalam melakukan dari ketiga metode penelitian tersebut yang baik digunakan untuk penelitian di sekolah yang mana ya? kenapa metode tersebut

    2. Baik, terima kasih atas masukannya.

      Bagi mahasiswa atau guru, untuk peneliti pemula bisa menggunakan metode kualitatif, hal ini cocok karena banyak fenomena dan kasus pendidikan ( seperti motivasi belajar dan interaksi antara guru dengan murid) serta tidak terlalu memerlukan sampel yang besar atau alat statistik.

      Contohnya apabila merupakan studi kasus ( implementasi pembelajaran berbasis projek pada kokurikuler di kelas 8E SMP Negeri 2 Tanggulangin)
      Langkah-langkah yang bisa dilakukan saat menggunakan metode ini adalah sebagai berikut:
      1. Pengumpulan Data ( dengan wawancara semi-terstruktur)
      2. Melakukan observasi partisipatif
      3. Analisis dokumen ( RPP, jurnal dan tugas siswa)
      4. Mengidentifikasi Pola yang akan dilakukan ( faktor pendukung atau kendala yang terjadi)
      5. Memvalidasi dengan membandingkan wawancara, observasi dan dokumen yang ada

      Dengan menggunakan metode ini, maka peneliti pemula akan dapat segera mendapatkan hasil dan merasa terpuaskan terkait dengan hasilnya sehingga akan merasa tertantang untuk melakukan penelitian kembali

  2. Pendekatan metode penelitian dengan menggabungkan antara kualitatif dan kuantitatif akan mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, di mana kedua jenis data saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain. Sehingga menurut saya metode ini lebih memberikan solusi terbaik, meski metode yang tepat juga tergantung data/masalah yang diteliti.

    Mantab dan menginspirasi Pak Fatchur

Leave a Reply