Artikel/opini
Claude AI sebagai Alat Bantu Efisiensi Guru dalam Pembuatan Modul Ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Abstrak
Beban administratif penyusunan modul ajar dalam Kurikulum Merdeka telah menjadi hambatan signifikan bagi efektivitas guru, termasuk guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI&BP). Namun, di tengah tuntutan tersebut, perkembangan teknologi kecerdasan buatan menghadirkan peluang untuk meningkatkan efisiensi kerja guru tanpa mengorbankan standar pedagogis. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan yang mengkaji apakah dan bagaimana Claude AI, yaitu model bahasa besar yang dikembangkan oleh Anthropic, dapat meningkatkan efisiensi guru PAI dalam menyusun modul ajar yang memenuhi standar struktural dan pedagogis Kurikulum Merdeka. Kajian ini menemukan bahwa Claude AI memberikan tiga keuntungan efisiensi yang konkret bagi guru PAI dalam menyusun modul ajar: (1) pengurangan signifikan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan struktur dan kerangka bahasa modul; (2) dukungan dalam menghasilkan variasi aktivitas pembelajaran untuk instruksi berdiferensiasi; serta (3) bantuan dalam menyusun pertanyaan pemantik dan rubrik asesmen sesuai standar Kurikulum Merdeka. Meskipun demikian, kajian ini secara kritis menegaskan bahwa efisiensi tidak otomatis berimplikasi pada kualitas. Konten teologis dalam modul PAI tetap membutuhkan pengawasan manusia yang berkualifikasi dan tidak dapat didelegasikan kepada AI. Sebagai kontribusi praktis, kajian ini mengusulkan model alur kerja yang memaksimalkan kontribusi efisiensi Claude AI sekaligus mempertahankan peran guru sebagai otoritas teologis dan pedagogis yang tidak tergantikan.
Kata Kunci: Claude AI, Modul Ajar, PAI & Budi Pekerti, Efisiensi Guru, Kurikulum Merdeka
PENDAHULUAN
Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI&BP) di Indonesia menghadapi tekanan ganda yang semakin berat: di satu sisi, tuntutan Kurikulum Merdeka untuk menyusun modul ajar secara mandiri, kontekstual, dan berdiferensiasi; di sisi lain, beban jam mengajar dan tugas-tugas administratif yang menyita waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk pengembangan kualitas pembelajaran. Kemendikbudristek (2023) mencatat bahwa penyusunan perangkat pembelajaran merupakan salah satu sumber beban administratif terbesar bagi guru Indonesia, menyita rata-rata 30–40% waktu non-mengajar mereka. Bagi guru PAI&BP, beban ini bahkan lebih berlapis: selain memenuhi format modul yang ditetapkan, mereka dituntut memastikan keakuratan konten teologis, relevansi nilai-nilai Islam dengan kehidupan peserta didik, dan keselarasan dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila sekaligus (Musa et al., 2023).
Di tengah tekanan ini, hadirnya Claude AI sebagai model bahasa besar (large language model/LLM) yang dikembangkan Anthropic, menawarkan kemungkinan yang menarik untuk ditelaah: apakah teknologi ini dapat secara nyata membantu guru PAI&BP menyelesaikan penyusunan modul ajar dengan lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas substansinya? Pertanyaan ini relevan bukan hanya secara teknis, melainkan juga secara pedagogis dan teologis. Efisiensi dalam konteks PAI&BP bukan sekadar soal seberapa cepat sebuah dokumen dapat diselesaikan, tapi ia menyentuh pertanyaan tentang bagaimana guru dapat mengalokasikan waktu dan energi yang “dihemat” oleh AI kepada aspek pembelajaran yang benar-benar memerlukan kehadiran, kebijaksanaan, dan keilmuan seorang guru: membimbing peserta didik dalam membangun pemahaman nilai, menghidupkan diskusi moral, dan menjadi teladan akhlak (Jauharoh & Mukhsin, 2025).
Beberapa kajian telah mulai menyentuh tema ini. (Baidoo-Anu & Ansah, 2023) mendokumentasikan bahwa LLM secara konsisten mampu mempercepat produksi teks instruksional yang terstruktur. (Wang et al., 2024) menemukan bahwa model AI seperti ChatGPT efektif dalam membantu guru merancang variasi aktivitas pembelajaran dan pertanyaan reflektif. Sementara dari Indonesia, (Williyan et al., 2024) mencatat penggunaan ChatGPT oleh guru SD dalam menyusun RPP dan melaporkan peningkatan efisiensi yang signifikan, meski penelitian tersebut tidak mengkaji konteks PAI secara spesifik. Namun kajian yang berfokus pada Claude AI yang memiliki karakteristik teknis berbeda dari ChatGPT, dan yang menelaah implikasinya secara spesifik bagi guru PAI&BP dalam kerangka Kurikulum Merdeka, masih sangat terbatas. Artikel ini mengisi celah tersebut dengan satu fokus yang tajam: menganalisis secara kritis bagaimana Claude AI dapat meningkatkan efisiensi guru PAI&BP dalam proses pembuatan modul ajar, sekaligus menetapkan batas-batas efisiensi tersebut agar tidak disalahpahami sebagai substitusi terhadap kompetensi guru. Tesis utama yang dibangun adalah: Claude AI adalah alat bantu efisiensi yang legitimate bagi guru PAI&BP, namun manfaatnya hanya optimal ketika digunakan dalam alur kerja yang menempatkan AI sebagai akselerator proses, bukan sebagai pengganti pertimbangan pedagogis dan teologis guru.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan (library research) dengan metode analisis isi kritis (critical content analysis). Pendekatan ini dipilih karena pertanyaan penelitian bersifat konseptual dan evaluatif: menilai potensi dan batas kontribusi Claude AI terhadap efisiensi guru PAI&BP berdasarkan bukti yang tersedia dalam literatur, sebelum pengujian empiris lapangan dilakukan.
Sumber literatur dikategorikan dalam tiga kelompok utama. Pertama, literatur tentang beban kerja guru dan desain instruksional dalam konteks Kurikulum Merdeka, termasuk dokumen resmi Kemendikbudristek dan Panduan Pengembangan Modul Ajar. Kedua, literatur tentang AI generatif dan LLM dalam konteks pendidikan dan penulisan instruksional, diakses melalui Google Scholar, ERIC, dan Scopus. Ketiga, dokumentasi teknis Claude AI dari Anthropic dan kajian komparatif yang membandingkan kinerja LLM dalam tugas-tugas desain instruksional. Penelusuran menggunakan kata kunci: “AI teaching module efficiency”, “Claude AI instructional design”, “LLM lesson plan teacher workload”, “modul ajar PAI Kurikulum Merdeka”, dan “efisiensi guru AI”.
Analisis dilakukan melalui tiga tahap: (1) identifikasi bukti empiris dan konseptual tentang kontribusi AI terhadap efisiensi guru dalam tugas-tugas desain instruksional; (2) kontekstualisasi bukti tersebut dalam kebutuhan spesifik penyusunan modul ajar PAI&BP; dan (3) perumusan model alur kerja yang dapat dioperasionalkan oleh guru PAI dalam praktik nyata.
HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN
1. Diagnosis Kendala Penyusunan Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti
Untuk menilai kontribusi efisiensi Claude AI secara akurat, perlu terlebih dahulu dipahami di mana tepatnya beban penyusunan modul ajar PAI&BP bertumpu. Modul ajar dalam Kurikulum Merdeka (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022) terdiri dari dua kelompok komponen: informasi umum dan komponen inti. Informasi umum mencakup identitas modul, kompetensi awal, profil pelajar Pancasila, sarana prasarana, target peserta didik, dan model pembelajaran. Komponen inti mencakup tujuan pembelajaran, pemahaman bermakna, pertanyaan pemantik, kegiatan pembelajaran (pendahuluan, inti, penutup), asesmen, pengayaan, dan remedial.
Berdasarkan kajian (Fathuddin et al., 2023) tentang praktik penyusunan modul ajar PAI di lapangan, beban terbesar bukan pada komponen yang membutuhkan keahlian teologis tinggi, melainkan pada pekerjaan yang bersifat struktural dan linguistik: menuliskan deskripsi kegiatan pembelajaran secara rinci, merumuskan tujuan pembelajaran yang sesuai format Kurikulum Merdeka, menyusun rubrik asesmen yang proporsional, dan menghasilkan variasi aktivitas untuk diferensiasi. Komponen-komponen inilah yang memakan sebagian besar waktu guru, sementara konten teologis inti, seperti pemilihan ayat, penentuan hukum, dan penjelasan akidah yang mana sesungguhnya dapat diselesaikan relatif cepat oleh guru yang memiliki kompetensi keilmuan agama yang memadai.
Diagnosis ini penting karena ia mengidentifikasi area di mana Claude AI dapat memberikan kontribusi paling signifikan: justru pada pekerjaan struktural-linguistik yang menyita waktu namun tidak mensyaratkan otoritas teologis. Dengan kata lain, ada “pembagian kerja” yang secara alami dapat terjadi antara kapabilitas AI dan kompetensi guru PAI, serta efisiensi muncul ketika pembagian kerja ini dilakukan secara sadar dan terstruktur.
2. Kontribusi Claude AI terhadap Efisiensi Guru
a. Akselerasi Strukturisasi Modul
Kemampuan utama Claude AI terhadap efisiensi guru adalah akselerasi strukturisasi. Ketika guru memberikan informasi konteks seperti kelas, jenjang, tema, dan kompetensi yang dituju, Claude AI dapat menghasilkan draf modul yang memuat seluruh komponen wajib Kurikulum Merdeka dalam waktu beberapa menit. (Baidoo-Anu & Ansah, 2023) mendokumentasikan bahwa LLM secara konsisten menghasilkan teks instruksional yang “lengkap secara formal”, yakni memuat semua elemen yang diminta dengan tata bahasa yang baik.
Dalam konteks PAI&BP, ini berarti guru tidak perlu lagi memulai dari halaman kosong untuk setiap modul baru. Draf awal yang dihasilkan Claude AI dapat menjadi titik tolak yang menghemat waktu signifikan dalam tahap strukturisasi, yang menurut estimasi (Van Den Berg & Du Plessis, 2023) dapat mengurangi waktu penyusunan awal hingga 40–60% dibandingkan penyusunan manual sepenuhnya. Waktu yang dihemat ini dapat dialokasikan guru untuk hal yang tidak dapat dikerjakan AI: meninjau keakuratan teologis konten, menyesuaikan contoh dengan konteks sosial-budaya peserta didik, dan memperdalam dimensi nilai dari pemahaman bermakna.
b. Generasi Variasi Aktivitas untuk Pembelajaran Berdiferensiasi
Salah satu tuntutan Kurikulum Merdeka yang paling menantang bagi guru adalah pembelajaran berdiferensiasi: merancang aktivitas yang responsif terhadap keragaman profil belajar peserta didik (visual, auditori, kinestetik) dan keragaman kesiapan belajar (cepat, rata-rata, lambat). (Tomlinson, 2003) mendefinisikan diferensiasi sebagai respons proaktif terhadap kebutuhan belajar yang beragam yang menjadi sebuah tugas yang secara konseptual mudah dipahami namun secara operasional menyita waktu luar biasa jika harus dirancang dari awal untuk setiap pertemuan (Ninta et al., 2025).
Claude AI memiliki kapasitas yang relatif baik dalam menghasilkan variasi aktivitas berdasarkan deskripsi profil peserta didik yang diberikan guru. (Pesovski et al., 2024) menemukan bahwa LLM efektif dalam menghasilkan versi berbeda dari aktivitas yang sama, misalnya versi berbasis gambar untuk peserta didik visual, versi diskusi untuk peserta didik auditori, dan versi proyek untuk peserta didik kinestetik. Dalam konteks PAI&BP, guru dapat mendeskripsikan materi yang ingin diajarkan, misalnya konsep sabar, dll. Serta guru dapat meminta Claude AI menghasilkan tiga variasi aktivitas pembelajaran yang sesuai profil berbeda, kemudian mengevaluasi dan menyesuaikan hasilnya. Proses ini jauh lebih efisien daripada merancang ketiga variasi dari nol.
c. Bantuan Penyusunan Pertanyaan Pemantik dan Rubrik Asesmen
Dua komponen yang sering dilaporkan guru sebagai yang paling sulit dikerjakan adalah pertanyaan pemantik yang benar-benar membuka rasa ingin tahu (bukan sekadar pertanyaan pengantar biasa) dan rubrik asesmen yang proporsional dan operasional. Keduanya membutuhkan keahlian linguistik dan pedagogis yang memakan waktu jika dikerjakan dari nol, namun tidak selalu membutuhkan keahlian teologis mendalam.
Claude AI menunjukkan kinerja yang relatif baik dalam kedua tugas ini. Untuk pertanyaan pemantik, model ini dapat menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat Socratic yaitu membuka diskusi, mendorong refleksi, dan menghubungkan materi dengan pengalaman peserta didik, ketika diberi konteks yang cukup oleh guru. Untuk rubrik asesmen, Claude AI dapat menghasilkan draf rubrik dengan indikator dan level pencapaian yang proporsional sesuai tujuan pembelajaran yang diberikan. Guru kemudian hanya perlu meninjau, menyesuaikan, dan memastikan bahwa indikator-indikator tersebut benar-benar mencerminkan pemahaman nilai, bukan sekadar hafalan, yang menjadi ciri khas asesmen PAI yang bermakna.
3. Batas Etis dan Fungsional Kecerdasan Buatan
Argumen tentang efisiensi Claude AI akan tidak lengkap dan berpotensi menyesatkan, jika tidak disertai penjelasan yang tegas tentang batas-batasnya. Efisiensi bukan tujuan tunggal dalam penyusunan modul PAI&BP; ia adalah sarana menuju tujuan yang lebih besar: pembelajaran yang secara teologis akurat, pedagogis bermakna, dan transformatif bagi karakter peserta didik. Ketika efisiensi AI berisiko mengorbankan tujuan ini, ia harus dibatasi.
Batas yang paling penting adalah konten teologis. Claude AI tidak memiliki otoritas berbasis isnad: ia menghasilkan pernyataan tentang fikih, tafsir, dan akhlak berdasarkan probabilitas statistik atas data teks yang pernah diproses, bukan berdasarkan rantai keilmuan yang terverifikasi. Ini berarti penjelasan tentang hukum suatu ibadah, penafsiran ayat Al-Qur’an, atau pemaknaan hadis yang dihasilkan Claude AI dapat terdengar fasih dan terstruktur namun mengandung kekeliruan teologis yang tidak terdeteksi secara linguistik. Guru PAI yang menggunakan output AI untuk komponen konten teologis tanpa verifikasi kritis berisiko menyebarkan pemahaman yang tidak berdasar kepada peserta didik yang menjadi sebuah konsekuensi yang jauh lebih serius dari sekadar kesalahan faktual biasa.
Batas kedua adalah pemahaman bermakna yang berdimensi nilai. Komponen ini dalam Kurikulum Merdeka bukan sekadar ringkasan materi, namun ia adalah rumusan “apa yang ingin peserta didik rasakan dan hayati” dari pembelajaran. Merumuskan pemahaman bermakna yang otentik membutuhkan kepekaan guru terhadap konteks kehidupan konkret peserta didiknya: masalah-masalah moral yang mereka hadapi, pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang mereka bawa, dan nilai-nilai yang perlu diperkuat dalam konteks sosial mereka. Ini adalah wilayah yang tidak dapat digantikan oleh AI, karena ia mensyaratkan pengetahuan tentang manusia nyata di hadapan guru, bukan teks umum tentang “peserta didik” secara abstrak.
4. Panduan Praktis Optimalisasi Claude AI
Berdasarkan analisis di atas, artikel ini mengusulkan model alur kerja (workflow) praktis yang dapat dioperasionalkan guru PAI&BP dalam menyusun modul ajar bersama Claude AI. Model ini dibagi dalam tiga fase yang mencerminkan pembagian kerja antara AI dan guru secara eksplisit.
Fase 1: Guru sebagai Perancang Konten Inti
Sebelum melibatkan Claude AI, guru terlebih dahulu menetapkan: (a) tujuan pembelajaran yang berpijak pada Capaian Pembelajaran resmi; (b) konten teologis inti berupa ayat, hadis, hukum fikih, atau konsep akidah, beserta sumber referensinya yang terverifikasi; dan (c) pemahaman bermakna yang kontekstual berdasarkan pengenalan guru terhadap peserta didiknya. Tahap ini tidak dapat dilewati atau didelegasikan, karena hasilnya akan menjadi “masukan teologis” yang mengarahkan seluruh proses berikutnya.
Fase 2: Claude AI sebagai Akselerator Struktur
Guru memasukkan konten inti hasil Fase 1 ke dalam prompt yang terstruktur dan meminta Claude AI untuk: (a) mengembangkan kegiatan pembelajaran lengkap (pendahuluan, inti, penutup) yang terintegrasi dengan konten yang diberikan; (b) menghasilkan variasi aktivitas untuk diferensiasi berdasarkan profil peserta didik yang dideskripsikan; dan (c) menyusun draf pertanyaan pemantik dan rubrik asesmen. Output AI di fase ini bersifat draf, bukan produk akhir.
Fase 3: Guru sebagai Editor Teologis dan Pedagogis
Guru meninjau seluruh output Claude AI dengan dua lensa sekaligus: lensa teologis (apakah seluruh pernyataan tentang agama akurat, berdasar, dan tidak menyesatkan?) dan lensa pedagogis (apakah seluruh aktivitas benar-benar mengarah pada internalisasi nilai, bukan sekadar transmisi informasi?). Hasil revisi fase ini adalah modul ajar final yang merupakan produk kolaborasi antara efisiensi AI dan otoritas guru.
Ketiga Model fase ini bukan hanya sebacgai panduan teknisi, namun berupa penegasan normatif tentang relasi yang tepat antara AI dan guru dalam konteks PAI&BP: AI bekerja di dalam batas yang ditetapkan oleh guru, bukan sebaliknya. Dengan alur kerja ini, efisiensi yang ditawarkan Claude AI tidak datang dengan biaya berupa degradasi kualitas teologis, karena konten teologis selalu bersumber dari guru, bukan dari AI.
PENUTUP
Kajian ini menegaskan bahwa kehadiran Claude AI membuka peluang nyata bagi guru PAI&BP untuk mengatasi beban administratif yang selama ini menggerus waktu dan energi mereka. Dengan mendelegasikan pekerjaan struktural dan linguistic, seperti mengembangkan kegiatan pembelajaran, merancang variasi aktivitas berdiferensiasi, serta menyusun pertanyaan pemantik dan rubrik asesmen kepada Claude AI, guru dapat memfokuskan perhatian pada hal yang sesungguhnya menjadi inti profesi mereka: memastikan keakuratan teologis materi, menghidupkan nilai-nilai Islam dalam interaksi kelas, dan membimbing pertumbuhan karakter peserta didik secara autentik.
Namun efisiensi ini hanya dapat diwujudkan secara bertanggung jawab jika guru memahami di mana batas kontribusi AI harus ditegakkan. Claude AI tidak memiliki kompetensi teologis yang terverifikasi; ia adalah akselerator proses, bukan otoritas agama. Model alur kerja tiga fase yang diusulkan artikel ini (guru sebagai perancang konten inti, AI sebagai akselerator struktur, dan guru kembali sebagai editor teologis) merupakan kerangka yang dapat menjaga keseimbangan antara manfaat efisiensi dan integritas kualitas PAI&BP. Mengingat kajian ini bertumpu sepenuhnya pada studi kepustakaan, penelitian lapangan yang menguji efektivitas nyata penggunaan Claude AI dalam proses penyusunan modul ajar PAI&BP di satuan pendidikan menjadi agenda yang mendesak. Uji empiris tersebut perlu mengukur tidak hanya efisiensi waktu secara kuantitatif, tetapi juga kualitas modul yang dihasilkan dari perspektif teologis dan pedagogis, misalnya melalui penilaian panel guru senior dan ulama, sehingga klaim efisiensi yang dibangun dalam kajian ini dapat diverifikasi, diperinci, atau jika perlu dikoreksi berdasarkan data dari praktik nyata di kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Baidoo-Anu, D., & Ansah, L. O. (2023). Education in the Era of Generative Artificial Intelligence (AI): Understanding the Potential Benefits of ChatGPT in Promoting Teaching and Learning. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.4337484
Fathuddin, F., Nurdin, N., & Rustina, R. (2023). The Challenges of Teaching Islamic Education In the Millennial Generation Era. International Journal of Contemporary Islamic Education, 5(1), 1–14. https://doi.org/10.24239/ijcied.vol5.iss1.66
Jauharoh, U. L., & Mukhsin. (2025). PERAN GURU AQIDAH AKHLAK DALAM MENANGGULANGI DAMPAK NEGATIF SOSIAL MEDIA DI SEKOLAH MADRASAH ALIYAH MA’ARIF NU KENCONG. An-Nadwah: Journal Research on Islamic Education. https://doi.org/10.62097/annadwah.v1i01.2051
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Kurikulum Merdeka: Panduan Pembelajaran dan Asesmen (pp. 6–18).
Musa, A., Dzakiyyuddin, M., & Amin, A. A. N. (2023). PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI SEBAGAI MODUL AJAR PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA PADA SMK. Manajemen Pendidikan. https://doi.org/10.23917/jmp.v18i2.23284
Ninta, A. I. S., Susanto, A., Misriandi, & Hadi, M. S. (2025). IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM KURIKULUM MERDEKA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DI SD MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA. J-Simbol: Jurnal Magister Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. https://doi.org/10.23960/simbol.v13i2.1061
Pesovski, I., Santos, R., Henriques, R., & Trajkovik, V. (2024). Generative AI for Customizable Learning Experiences. Sustainability. https://doi.org/10.3390/su16073034
Tomlinson, C. (2003). Fulfilling the Promise of the Differentiated Classroom: Strategies and Tools for Responsive Teaching. https://consensus.app/papers/fulfilling-the-promise-of-the-differentiated-classroom-tomlinson/320c4e04cc915539978a06a41dfa899a/
Van Den Berg, G., & Du Plessis, E. (2023). ChatGPT and Generative AI: Possibilities for Its Contribution to Lesson Planning, Critical Thinking and Openness in Teacher Education. Education Sciences. https://doi.org/10.3390/educsci13100998
Wang, S., Xu, T., Li, H., Zhang, C., Liang, J., Tang, J., Yu, P., & Wen, Q. (2024). Large Language Models for Education: A Survey and Outlook. ArXiv, abs/2403.1. https://doi.org/10.48550/arxiv.2403.18105
Williyan, A., Fitriati, S., Pratama, H., & Sakhiyya, Z. (2024). AI AS CO-CREATOR: EXPLORING INDONESIAN EFL TEACHERS’ COLLABORATION WITH AI IN CONTENT DEVELOPMENT. Teaching English With Technology. https://doi.org/10.56297/vaca6841/lrdx3699/rzoh5366