Notulensi

Judul: Perkembangan Sosial Emosional Usia TK–SD

Pemateri: Intan Munadhifa

Moderator: Moh Syaiful Anam

Notulis : Syaikhurridlo Firmansyah

Audience:

1. Bunga Nahwafillah Rachmawati

2. Sofiya Fatma Anggraini

3. Zakiya Alyssa Azzahra

4. Atha Ivana

5. Siti Nur Syofiah

6. Muhammad Jamaluddin Asyrofi

7. Muhammad Muzzammil Akbar

8. Amanda Elmayra Maulida

Isi Pembahasan

A. Tahapan perkembangan sosial dan emosional anak usia dini serta usia sekolah dasar menurut teori psikologi perkembangan.

B. Ciri-ciri kemampuan sosial dan regulasi emosi anak usia TK–SD dalam konteks interaksi keluarga, teman sebaya, dan guru.

C. Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan sosial emosional anak, termasuk pola asuh, lingkungan belajar, dan media digital.

D. Strategi intervensi atau pembelajaran yang mendukung perkembangan empati, kontrol diri, dan keterampilan sosial anak usia TK–SD.

E. Kaitan perkembangan sosial emosional anak dengan pembentukan nilai-nilai karakter dalam konteks pendidikan.

Sesi Pertanyaan

1. Moh Syaiful Anam

Soal: Apa konsekuensi yang dialami anak apabila gagal melewati tahapan perkembangan sosial emosional menurut teori Erikson?

Jawaban: Jika anak tidak berhasil melalui tahap perkembangannya, maka pada masa berikutnya ia dapat menghadapi kesulitan, seperti kurang percaya diri, sulit menjalin kepercayaan dengan orang lain, atau kesulitan dalam kemandirian. Hambatan ini dapat terbawa dan memengaruhi perkembangan sosial emosional pada tahap selanjutnya.

Soal: Dalam kondisi saat ini, banyak orang tua memberikan gadget atau handphone kepada anak sejak usia dini. Apakah hal tersebut berdampak pada perkembangan sosial dan emosional anak?

Jawaban: Pemberian gadget di usia dini tentu memiliki dampak. Jika penggunaannya tidak dibatasi, anak bisa kurang bersosialisasi dengan teman sebaya, berkurang empatinya, mudah mengalami ledakan emosi, bahkan berisiko kecanduan. Namun, dengan pendampingan orang tua serta penggunaan yang terarah, gadget tetap dapat dimanfaatkan secara positif.

2. Syaikhurridlo Firmansyah

Soal: Apa yang dimaksud dengan emosi, mengingat istilah emosi seringkali diidentikkan dengan perasaan marah?

Jawaban: Emosi tidak hanya berkaitan dengan rasa marah. Emosi mencakup berbagai perasaan, seperti senang, sedih, takut, marah, hingga rasa terharu. Jadi, emosi merupakan reaksi alami yang luas, bukan sekadar hal yang bersifat negatif.

Soal: Jika emosi umumnya terlihat melalui tanda-tanda fisik, bagaimana dengan emosi yang ditahan sehingga tidak tampak secara biologis?

Jawaban: Emosi yang ditahan tetap ada, hanya saja tidak tampak di permukaan. Penekanan emosi seperti ini dapat menimbulkan stres, rasa tertekan, atau berdampak pada kesehatan mental dan fisik dalam jangka panjang.

Soal: Apakah emosi merupakan bawaan genetik (nativisme) atau hasil dari pengalaman dan lingkungan (empirisme)?

Jawaban: Emosi terbentuk dari keduanya. Anak memiliki kecenderungan dasar yang dibawa sejak lahir, tetapi cara mengelola dan mengekspresikan emosi sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan lingkungan sekitarnya.

Soal: Apakah perkembangan sosial dan emosional anak tunggal berbeda dengan anak yang memiliki saudara?

Jawaban: Pada umumnya, anak tunggal memiliki pengalaman yang berbeda karena kurang kesempatan untuk belajar berbagi atau berkompetisi di rumah. Sementara anak dengan saudara lebih sering berlatih hal tersebut. Namun, perkembangan keduanya tetap sangat ditentukan oleh pola asuh orang tua.

Soal: Mengingat kondisi sosial anak usia TK–SD sangat rentan, bagaimana peran orang tua dalam menghadapi pengaruh lingkungan tempat tinggal/rumah atau kampung yang buruk dan berpotensi memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak?

Jawaban: Orang tua memiliki peran penting untuk memberikan pengawasan yang lebih intensif, menanamkan nilai-nilai yang baik di rumah, serta mencarikan lingkungan alternatif yang positif. Misalnya melalui kegiatan sekolah, komunitas, atau aktivitas lain yang mendukung perkembangan anak secara sehat.

3. Muhammad Jamaluddin Asyrofi

Soal: Apakah terdapat dampak emosional pada anak yang terbiasa atau gemar meminta sesuatu kepada orang tuanya dan menuntut agar permintaan tersebut dipenuhi saat itu juga

Jawaban: Ada dampaknya. Anak bisa menjadi manja, kurang memiliki kemampuan mengendalikan diri, dan mudah kecewa ketika permintaannya tidak terpenuhi. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menghambat kemampuan anak untuk bersabar dan memahami bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk melatih anak agar lebih sabar dan mampu mengendalikan emosinya.

Catatan Penutup :Notulensi ini dirangkum dari pembahasan pemateri dan peserta. Ai hanya membantu perapian bahasa dan format.

Leave a Reply