Pemateri : Nafisa Dzatin Nuha
Moderator : Indina Ulil Fasya
Notulen : Nur Jannah
Materi: Psikologi Perkembangan
Hasil Resume Materi :
1. Latar Belakang
- Psikologi mempelajari proses mental dan perilaku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan.
- Perkembangan manusia meliputi perubahan fisik dan psikologis yang membentuk kepribadian dan kemampuan sosial.
- Psikologi perkembangan berfokus pada perubahan sejak lahir hingga dewasa, termasuk dorongan mempertahankan dan mengembangkan diri.
2. Pengertian
- Ilmu yang mempelajari jiwa dan tingkah laku manusia dalam taraf perkembangan, mulai dari konsepsi hingga usia tua.
- Berdasarkan pertumbuhan, kematangan, belajar, dan pengalaman.
- Menekankan perubahan kualitatif dalam aspek kejiwaan.
3. Ruang Lingkup
- Sangat luas, mencakup seluruh rentang kehidupan:
- Masa kandungan
- Bayi
- Anak kecil
- Anak sekolah
- Pra-remaja
- Remaja
- Dewasa
- Pembahasan dikelompokkan menjadi: psikologi anak, remaja, dan dewasa.
4. Tujuan
- Memahami perubahan fisik, kognitif, sosial, dan emosional pada tiap fase perkembangan.
- Mengidentifikasi faktor penghambat.
- Mengembangkan intervensi.
- Meningkatkan kualitas hidup individu.
5. Pendekatan Utama dalam Psikologi Perkembangan
- Psikoanalisis → Fokus pada konflik bawah sadar dan pengalaman masa kanak-kanak (Id, Ego, Superego).
- Behaviorisme → Belajar melalui interaksi lingkungan (stimulus, respons, penguatan, hukuman).
- Kognitif → Proses berpikir, memahami, dan mengolah informasi.
- Sosial → Belajar melalui observasi dan peniruan perilaku orang lain (perhatian, ingatan, motivasi).
- Etologis → Perilaku dilihat dari perspektif evolusi dan biologi.
- Ekologi → Perkembangan dipengaruhi interaksi dengan lingkungan berlapis (mikrosistem–kronosistem).
6. Psikologi Perkembangan dan Isu Kontemporer Pendidikan
- Penting dalam pendidikan karena pertumbuhan peserta didik dipengaruhi aspek psikologis.
- Tantangan kontemporer: teknologi pendidikan, keberagaman siswa, pembelajaran jarak jauh, inklusivitas.
- Guru harus memahami tahap perkembangan siswa untuk merancang metode belajar yang relevan.
- Motivasi siswa meningkat melalui pendekatan psikologi dan interaksi menyenangkan.
7. Kesimpulan
- Psikologi perkembangan mempelajari perubahan manusia secara fisik, kognitif, sosial, dan emosional dari konsepsi hingga tua.
- Tujuannya memahami tahapan, faktor, dan solusi hambatan perkembangan.
- Pendekatan utama: psikoanalisis, kognitif, behaviorisme, sosial, etologis, dan ekologi → memberikan pemahaman komprehensif.
Sesi Q&A
- Mengingat ruang lingkup psikologi perkembangan mencakup seluruh rentang kehidupan, fase manakah yang paling krusial dalam pembentukan kepribadian? Mengapa?
Penanya : Nur Jannah
Jawaban : Dalam psikologi perkembangan, masa kanak-kanak awal dianggap sebagai fase paling krusial karena menjadi fondasi pembentukan kepribadian. Pada usia 0–6 tahun, otak berkembang pesat, rasa ingin tahu tinggi, dan interaksi sosial pertama kali terjadi. Pola asuh, kasih sayang, serta stimulasi yang diterima anak akan sangat menentukan cara pandangnya terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Anak yang mendapat perhatian positif cenderung tumbuh percaya diri, sedangkan pengalaman negatif dapat menimbulkan rasa tidak aman hingga dewasa. Meski fase remaja dan dewasa juga berperan dalam membentuk ulang kepribadian, akar terkuat biasanya tumbuh dari pengalaman awal di masa kanak-kanak.
2. Sejauh mana pengalaman masa anak benar benar menentukan kepribadian saat dewasa apakah ada faktor lain yang dapat mengubah hal tersebut?
Penanya : Alba Khairun Nisa’
Jawaban : Masa kanak-kanak merupakan fondasi utama dalam pembentukan kepribadian, karena pada fase ini anak pertama kali belajar tentang rasa aman, kasih sayang, disiplin, dan interaksi sosial. Pengalaman positif akan menumbuhkan kepercayaan diri, sementara pengalaman negatif dapat menimbulkan rasa tidak aman hingga dewasa. Meski demikian, kepribadian tidak bersifat kaku. Faktor-faktor seperti lingkungan sosial, pendidikan, pengalaman hidup, kejadian besar, kondisi biologis, serta kesadaran diri dapat memperkuat atau bahkan mengubah kepribadian seseorang di kemudian hari. Dengan demikian, masa kanak-kanak menjadi dasar penting, tetapi perjalanan hidup tetap memberi peluang bagi perubahan dan perkembangan kepribadian.
3. Apa kelebihan dan kekurangan dalam setiap pendekatan?
Penanya : Eki Purwo Maharani
Jawaban : Setiap pendekatan dalam psikologi perkembangan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pendekatan psikoanalisis unggul dalam menggali aspek bawah sadar dan pengalaman masa kecil, namun dinilai subjektif dan sulit dibuktikan. Pendekatan kognitif menekankan proses berpikir serta belajar, sangat bermanfaat dalam memahami cara manusia memecahkan masalah, tetapi cenderung mengabaikan emosi dan konteks sosial. Pendekatan behaviorisme praktis dalam pendidikan dan terapi karena fokus pada perilaku yang tampak, namun terlalu menyepelekan faktor internal. Pendekatan sosial memberi perhatian besar pada hubungan dan pengaruh lingkungan, tetapi kurang memperhatikan faktor biologis individu. Pendekatan teologis menawarkan arah moral dan makna hidup, namun sifatnya normatif sehingga kurang dipakai dalam riset ilmiah. Sementara itu, pendekatan ekologi bersifat komprehensif karena melihat perkembangan dari berbagai sistem, meski kelemahannya adalah sulit diterapkan secara praktis karena cakupannya terlalu luas.
4. Bagaimana seorang pendidik dapat memadukan berbagai pendekatan (psikoanalisis, kognitif, behaviorisme, sosial, ekologi, etologis) dalam pembelajaran ?
Penanya : Nimas Muthi’ah Bilqis
Jawaban : Setiap pendekatan dalam psikologi perkembangan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pendekatan psikoanalisis unggul dalam menggali aspek bawah sadar dan pengalaman masa kecil, namun dinilai subjektif dan sulit dibuktikan. Pendekatan kognitif menekankan proses berpikir serta belajar, sangat bermanfaat dalam memahami cara manusia memecahkan masalah, tetapi cenderung mengabaikan emosi dan konteks sosial. Pendekatan behaviorisme praktis dalam pendidikan dan terapi karena fokus pada perilaku yang tampak, namun terlalu menyepelekan faktor internal. Pendekatan sosial memberi perhatian besar pada hubungan dan pengaruh lingkungan, tetapi kurang memperhatikan faktor biologis individu. Pendekatan teologis menawarkan arah moral dan makna hidup, namun sifatnya normatif sehingga kurang dipakai dalam riset ilmiah. Sementara itu, pendekatan ekologi bersifat komprehensif karena melihat perkembangan dari berbagai sistem, meski kelemahannya adalah sulit diterapkan secara praktis karena cakupannya terlalu luas.
5. Bagaimana psikologi perkembangan dapat membantu kita memahami diri sendiri dan orang lain?
Penanya : Intan Ulfi El Barizah
Jawaban : Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa manusia selalu berubah dan bertumbuh sepanjang hidup. Dengan memahami tahap-tahap perkembangan, kita dapat mengerti mengapa anak kecil penuh rasa ingin tahu, remaja sibuk mencari jati diri, atau orang dewasa lebih berfokus pada tanggung jawab sosial dan keluarga. Bagi diri sendiri, pengetahuan ini membantu menyadari fase hidup yang sedang dijalani serta cara menghadapi tantangannya. Bagi orang lain, psikologi perkembangan menumbuhkan empati karena setiap individu memiliki kebutuhan dan cara berpikir sesuai tahapannya. Dengan demikian, psikologi perkembangan bukan sekadar teori, tetapi juga panduan membangun hubungan yang sehat dengan diri sendiri maupun orang lain.
6. Jika fase anak-anak dianggap sebagai fase krusial dalam pembentukan kepribadian, bagaimana dampak jangka panjang dari pengalaman traumatis seperti pelecehan atau bullying terhadap perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak?
Penanya : Nur Jannah
Jawaban : Pengalaman traumatis pada masa anak-anak, seperti pelecehan atau bullying, dapat berdampak jangka panjang pada aspek kognitif, emosional, dan sosial. Secara kognitif, trauma mengganggu konsentrasi, memori, serta kemampuan berpikir jernih sehingga anak kesulitan belajar. Dari sisi emosional, anak berisiko mengalami rendah diri, kecemasan, depresi, dan kesulitan mengelola emosi hingga dewasa. Sementara secara sosial, trauma membuat anak kehilangan kepercayaan, merasa terisolasi, atau bersikap agresif, yang kemudian memengaruhi hubungan dengan orang lain. Meski demikian, dampak tersebut tidak selalu permanen karena dengan dukungan keluarga, lingkungan yang aman, dan intervensi psikologis, anak masih dapat pulih dan berkembang secara sehat.