Maysha Amanda Prastya (06020125119)

Refleksi kel 10

Membahas tentang kepribadian, karakter, dan akhlak dalam pendidikan Islam. Kepribadian merupakan ciri khas seseorang, karakter adalah nilai yang tertanam dalam diri, sedangkan akhlak terlihat melalui perilaku sehari-hari. Ketiganya saling berkaitan dalam membentuk pribadi yang baik.Pendidikan akhlak dapat dilakukan melalui pembiasaan perilaku baik dan keteladanan dari guru, orang tua, maupun lingkungan. Selain itu, kontrol diri diperlukan agar seseorang mampu mengendalikan emosi dan memilih tindakan yang benar. Dalam Islam, hal ini juga berkaitan dengan tazkiyat al-nafs, yaitu usaha membersihkan dan memperbaiki jiwa melalui pengenalan kekurangan, pengurangan sifat buruk, penumbuhan sifat terpuji, dan evaluasi diri (muhasabah).Penerapannya dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti bersikap jujur, menghormati orang tua dan guru, tidak menyontek, menghargai perbedaan, serta bertanggung jawab. Kesimpulannya, karakter dan akhlak yang baik tidak cukup dibentuk melalui pembiasaan saja, tetapi juga membutuhkan pemahaman, keteladanan, kontrol diri, dan kesadaran untuk terus memperbaiki diri.

Refleksi kel 11

Membahas tentang hubungan antara emosi, regulasi diri, dan kesejahteraan psikologis siswa (student well-being). Tekanan akademik dapat memicu stres dan kecemasan, terutama ketika siswa kesulitan mengatur waktu, emosi, serta proses belajarnya. Regulasi diri, self-esteem (harga diri), dan resilience (kemampuan bangkit dari kesulitan) berperan penting dalam membantu siswa menghadapi tekanan tersebut.Contohnya, Ahmad mengalami kecemasan menjelang ujian Matematika karena nilai sebelumnya rendah. Ia merasa tidak mampu sehingga menunda belajar dan semakin cemas. Untuk membantunya, guru dapat mendengarkan tanpa menghakimi, mengajarkan teknik menenangkan diri, membagi target belajar menjadi langkah kecil, serta memantau perkembangannya.Dalam perspektif Islam, dzikir, sabar, dan tawakal dapat mendukung ketenangan dan pengendalian emosi. Guru berperan memberikan pendampingan edukatif, tetapi apabila gejala berat terus berlanjut, siswa perlu dirujuk kepada guru BK atau tenaga profesional seperti psikolog. Kesimpulannya, kesejahteraan siswa perlu didukung melalui pendekatan psikologis, pendidikan, sosial, dan spiritual secara terpadu.

Leave a Reply