

Anggota Kelompok :
1. Firman Ubaidillah (06040124161)
2. Hanifah Sabrina Aulia (06040124162)
3. M. Iqbaal Al Ghifari (06040124168)
4. Nadiah Salma Fairuzah (06040124173)
5. Rifqiya Zahara (06040124178)
6. Siti Nur Sofia (06040124181)
7. Syaikhurridlo Firmansyah (06040124187)
8. Uti Muhsi Asyari (06040124189)
Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada era digital membawa pengaruh besar terhadap dunia pendidikan. Pemanfaatan Information and Communication Technology (ICT) dalam pembelajaran menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar agar lebih efektif, interaktif, dan menarik bagi peserta didik. Penggunaan media berbasis ICT memungkinkan guru menyampaikan materi pembelajaran melalui berbagai bentuk, seperti video pembelajaran, presentasi interaktif, aplikasi kuis digital, maupun platform pembelajaran daring. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menerima materi secara konvensional, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang lebih variatif dan menyenangkan.
Dalam proses pembelajaran, penggunaan media ICT memiliki peran penting untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa selama kegiatan belajar berlangsung. Menurut Azhar Arsyad dalam bukunya Media Pembelajaran, media pembelajaran berfungsi sebagai alat bantu yang dapat memperjelas penyampaian pesan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara lebih efektif. Selain itu, penggunaan teknologi dalam pembelajaran juga dapat membantu guru menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan tidak monoton.
Penerapan ICT dalam pembelajaran saat ini juga sejalan dengan perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia yang menuntut guru untuk mampu memanfaatkan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar. Melalui penggunaan media ICT, guru dituntut lebih kreatif dalam memilih metode, media, dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, observasi terhadap pembelajaran berbasis ICT menjadi penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan teknologi diterapkan secara langsung di lingkungan sekolah.
Kegiatan observasi ini dilaksanakan di MTs Tanada dengan tujuan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai penggunaan media ICT dalam proses pembelajaran. Melalui observasi ini, mahasiswa dapat memahami penerapan media pembelajaran berbasis teknologi, interaksi antara guru dan siswa, serta berbagai kendala yang dihadapi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menghubungkan teori yang diperoleh di perkuliahan dengan praktik pembelajaran di lapangan. Dengan adanya kegiatan observasi ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami pentingnya pemanfaatan ICT dalam pembelajaran serta memperoleh pengalaman langsung mengenai implementasi media pembelajaran berbasis teknologi di sekolah.
Manfaat Observasi
Bagi Mahasiswa
• Menambah wawasan mengenai penerapan media ICT dalam proses pembelajaran
• Melatih kemampuan observasi, analisis, dan penyusunan laporan ilmiah
• Memahami hubungan antara teori pembelajaran dengan praktik di lapangan.
Bagi Sekolah
• Menjadi bahan evaluasi dalam penggunaan media ICT pada proses pembelajaran
• Membantu meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis teknologi di sekolah.
Bagi Guru
• Memberikan gambaran mengenai efektivitas penggunaan media ICT dalam pembelajaran
• Menjadi masukan dalam pengembangan strategi dan media pembelajaran yang lebih inovatif.
Bagi Penulis
• Menambah pengalaman langsung mengenai pembelajaran berbasis ICT
• Mengembangkan kemampuan memahami kondisi nyata proses pembelajaran di sekolah.
Tujuan Observasi
1. Mengetahui penerapan media ICT dalam proses pembelajaran di MTs Tanada
2. Mengetahui jenis media ICT yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran
3. Mengetahui strategi guru dalam memanfaatkan media ICT selama proses belajar mengajar
4. Mengetahui respon dan keterlibatan siswa terhadap penggunaan media ICT dalam pembelajaran
5. Mengidentifikasi kendala yang dihadapi guru dalam penerapan media ICT di kelas
6. Menghubungkan teori pembelajaran berbasis ICT dengan praktik pembelajaran di lapangan, serta Mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam memahami dan mengevaluasi praktik pembelajaran PAI di Madrasah.
Landasan Teori
Landasan teori berfungsi sebagai dasar ilmiah dalam memahami pelaksanaan pembelajaran berbasis Information and Communication Technology (ICT) di sekolah. Teori ini mencakup konsep ICT dalam pembelajaran, peran guru dalam penggunaan media digital, penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi, implementasi pembelajaran berbasis ICT, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Dengan adanya landasan teori, hasil observasi dapat dianalisis secara lebih terarah dan sesuai dengan konsep pendidikan yang berlaku.
Pembelajaran berbasis ICT merupakan proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media untuk membantu penyampaian materi kepada peserta didik. Penggunaan ICT dalam pembelajaran bertujuan untuk menciptakan proses belajar yang lebih efektif, interaktif, dan menarik. Pemanfaatan media berbasis teknologi seperti video pembelajaran, presentasi digital, aplikasi kuis interaktif, dan platform pembelajaran daring dapat membantu peserta didik memahami materi dengan lebih mudah. Menurut Azhar Arsyad, media pembelajaran memiliki fungsi untuk memperjelas penyampaian informasi sehingga dapat meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar. Oleh karena itu, penggunaan media ICT menjadi salah satu inovasi penting dalam dunia pendidikan modern.
Guru memiliki peran penting dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis ICT. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan peserta didik dalam menggunakan teknologi secara tepat selama proses pembelajaran. Keberhasilan penggunaan ICT dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam memilih media yang sesuai, mengelola kelas, serta menciptakan suasana belajar yang aktif dan interaktif. Penelitian mengenai pembelajaran berbasis teknologi menunjukkan bahwa penggunaan media digital yang kreatif dapat meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa selama kegiatan belajar berlangsung. Oleh karena itu, guru dituntut memiliki kemampuan dan kreativitas dalam memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran.
Media pembelajaran berbasis ICT menjadi salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran di era digital. Media tersebut dapat berupa video pembelajaran, PowerPoint interaktif, aplikasi Quizizz, Google Classroom, maupun berbagai platform pembelajaran lainnya. Penggunaan media digital dapat membantu peserta didik lebih fokus dan tertarik terhadap materi yang dipelajari. Selain itu, media berbasis ICT juga dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan tidak monoton. Penelitian yang dilakukan oleh Randi Syahputra menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis teknologi informasi memiliki pengaruh positif terhadap motivasi dan hasil belajar siswa karena pembelajaran menjadi lebih interaktif dan mudah dipahami.
Kurikulum menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penerapan ICT dalam pembelajaran. Kurikulum saat ini menuntut guru untuk mampu memanfaatkan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar agar pembelajaran sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik. Implementasi pembelajaran berbasis ICT tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mandiri. Oleh karena itu, penggunaan teknologi dalam pembelajaran perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik peserta didik agar proses belajar dapat berjalan secara optimal.
Selain memberikan banyak manfaat, penerapan ICT dalam pembelajaran juga menghadapi berbagai tantangan. Kendala seperti keterbatasan fasilitas teknologi, jaringan internet, kemampuan guru dalam mengoperasikan media digital, serta kurangnya keterlibatan sebagian peserta didik dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran berbasis ICT. Oleh sebab itu, diperlukan inovasi dan strategi pembelajaran yang tepat agar penggunaan teknologi benarbenar dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Landasan teori ini menjadi dasar dalam menganalisis hasil observasi yang dilakukan di MTs Tanada. Teori-teori tersebut membantu memahami bagaimana pelaksanaan pembelajaran berbasis ICT diterapkan di sekolah serta melihat kesesuaian antara teori pembelajaran dengan praktik yang ditemukan selama kegiatan observasi berlangsung.
Metode Observasi
A. Lokasi dan Waktu Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan di MTs Tanada, Observasi dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran berbasis Information and Communication Technology (ICT) dalam proses belajar mengajar di sekolah. Waktu Observasi Observasi dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 8 Mei 2026. Adapun kegiatan yang dilakukan selama observasi meliputi:
a. Perkenalan dan penyampaian tujuan kegiatan observasi kepada pihak sekolah dan peserta didik
b. Pelaksanaan pembelajaran secara langsung oleh mahasiswa menggunakan media pembelajaran berbasis ICT di dalam kelas
c. Penggunaan media ICT seperti video pembelajaran, presentasi digital, maupun media interaktif lainnya dalam proses penyampaian materi pembelajaran
d. Pengamatan terhadap respon, partisipasi, dan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung
e. Pembagian rubrik penilaian atau angket kepada siswa untuk mengetahui pendapat dan respon mereka terhadap media pembelajaran ICT yang telah digunakan
f. Pengumpulan hasil penilaian siswa sebagai bahan analisis terhadap efektivitas media pembelajaran yang diterapkan
g. Pengambilan dokumentasi kegiatan observasi dan pembelajaran selama kegiatan berlangsung.
B. Subjek Observasi
Subjek dalam kegiatan observasi ini adalah peserta didik dan guru di MTs Tanada yang terlibat dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis Information and Communication Technology (ICT). Observasi difokuskan pada proses pembelajaran yang dilaksanakan secara langsung oleh mahasiswa menggunakan media pembelajaran berbasis ICT di kelas.
Peserta didik menjadi subjek utama dalam observasi karena mereka terlibat secara langsung dalam kegiatan pembelajaran serta memberikan respon terhadap media pembelajaran yang digunakan. Respon siswa diperoleh melalui pengamatan selama pembelajaran berlangsung serta melalui rubrik penilaian atau angket yang dibagikan setelah kegiatan pembelajaran selesai.
Selain peserta didik, guru mata pelajaran juga menjadi subjek observasi sebagai pihak yang mengamati jalannya pembelajaran dan memberikan penilaian terhadap penggunaan media ICT yang diterapkan. Informasi dari guru digunakan sebagai data pendukung untuk mengetahui efektivitas media pembelajaran serta keterlibatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam kegiatan observasi ini meliputi observasi, angket, dan dokumentasi. Ketiga teknik tersebut digunakan untuk memperoleh data mengenai pelaksanaan pembelajaran berbasis Information and Communication Technology (ICT) serta respon peserta didik terhadap media pembelajaran yang digunakan.
1. Observasi, dilakukan dengan mengamati secara langsung proses pembelajaran berbasis ICT yang dilaksanakan di kelas. Pengamatan dilakukan terhadap penggunaan media pembelajaran digital, proses penyampaian materi, keterlibatan siswa selama pembelajaran berlangsung, serta interaksi antara mahasiswa dan peserta didik di dalam kelas.
2. Angket atau Rubrik Penilaian, diberikan pada peserta didik setelah proses pembelajaran selesai. Angket bertujuan untuk mengetahui pendapat, respon, serta tingkat ketertarikan siswa terhadap media pembelajaran berbasis ICT yang digunakan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Data dari angket digunakan sebagai bahan analisis untuk mengetahui efektivitas media pembelajaran yang diterapkan.
3. Dokumentasi, dilakukan sebagai data pendukung dalam kegiatan observasi. Dokumentasi berupa foto kegiatan pembelajaran, penggunaan media ICT di kelas, serta catatan penting yang berkaitan dengan pelaksanaan observasi dan proses pembelajaran.
D. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil observasi, angket, dan dokumentasi dianalisis secara deskriptif. Data hasil angket siswa dikelompokkan berdasarkan respon peserta didik terhadap media pembelajaran berbasis ICT yang digunakan. Selanjutnya, data hasil observasi dan dokumentasi digunakan untuk mendukung analisis mengenai pelaksanaan pembelajaran, keterlibatan siswa, serta efektivitas penggunaan media ICT dalam proses pembelajaran.
Hasil analisis kemudian dijelaskan secara sistematis untuk mengetahui kesesuaian antara pelaksanaan pembelajaran berbasis ICT di kelas dengan teori pembelajaran yang telah dipelajari.
Hasil dan Pembahasan
A. Hasil Angket Respons Siswa
Pengumpulan data respons siswa dilakukan melalui instrumen angket yang diberikan kepada seluruh peserta didik di akhir kegiatan pembelajaran. Jumlah responden dalam observasi ini sebanyak 23 siswa. Angket terdiri atas sepuluh pernyataan yang mencakup berbagai aspek pembelajaran berbasis media ICT, meliputi video microlearning, modul digital, dan aplikasi Quizizz. Setiap pernyataan direspons menggunakan skala Likert empat poin, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Cukup Setuju (CS), dan Tidak Setuju (TS). Berikut disajikan rekapitulasi hasil angket respons siswa.
Indikator Pertanyaan
1. Video pembelajaran lebih mudah dipahami (SS = 3, S=14, CS= 7, TS=0 Total 23)
2. Video membuat pembelajaran lebih menarik (SS = 13, S=9, CS= 1, TS=0 Total 23)
3. Modul digital membantu memahami materi (SS = 12, S=7, CS= 4, TS=0 Total 23)
4. Tampilan modul digital menarik (SS = 6, S=8, CS= 8, TS=0 Total 23)
5. Quizizz membuat belajar semakin seru (SS = 20, S=2, CS= 1, TS=0 Total 23)
6. Soal Quizizz sesuai dengan materi (SS = 19, S=3, CS= 0, TS=1 Total 23)
7. Guru menjelaskan materi dengan baik (SS = 6, S=10, CS= 7, TS=1 Total 23)
8. Saya lebih aktif saat pembelajaran berlangsung (SS = 4, S=10, CS= 8, TS=0 Total 23)
9. Media ICT membantu saya belajar lebih mudah (SS = 9, S=11, CS= 3, TS=0 Total 23)
10. Pembelajaran hari ini menyenangkan (SS = 21, S=1, CS= 1, TS=0 Total 23)
B. Analisis Hasil Angket Respons Siswa
Secara umum, data hasil angket menunjukkan respons positif yang sangat kuat dari siswa terhadap penggunaan media ICT dalam pembelajaran. Dari sepuluh indikator yang diukur, tidak satu pun yang memperoleh respons negatif dominan, dan sebagian besar pernyataan didominasi oleh pilihan Sangat Setuju (SS) maupun Setuju (S). Hal ini mengindikasikan bahwa kehadiran media teknologi dalam proses pembelajaran disambut dengan antusias oleh peserta didik.
Indikator yang memperoleh respons paling tinggi adalah pernyataan mengenai suasana pembelajaran yang menyenangkan (indikator ke-10), di mana sebanyak 21 dari 23 siswa atau sekitar 91,3% menyatakan Sangat Setuju. Hasil ini mencerminkan bahwa integrasi media ICT secara menyeluruh mulai dari video microlearning hingga Quizizz mampu menciptakan iklim belajar yang positif dan jauh dari kesan monoton. Tingginya angka ini bukan sekadar cerminan kesenangan sesaat, melainkan juga mengindikasikan keterlibatan emosional siswa yang tinggi selama proses belajar berlangsung.
Sejalan dengan itu, indikator terkait penggunaan Quizizz juga memperlihatkan respons yang sangat menonjol. Pada pernyataan ‘Quizizz membuat belajar semakin seru’ (indikator ke-5), sebanyak 20 siswa atau 86,9% memberikan respons Sangat Setuju. Demikian pula pada kesesuaian soal Quizizz dengan materi (indikator ke-6), sebanyak 19 siswa (82,6%) merespons dengan Sangat Setuju. Data ini menegaskan bahwa Quizizz tidak hanya berhasil sebagai platform kuis yang menghibur, tetapi juga dipersepsikan siswa sebagai alat penilaian yang relevan dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Adapun indikator terkait video microlearning menunjukkan pola yang menarik. Pada pernyataan “video pembelajaran lebih mudah dipahami” (indikator ke-1), Jawaban terbanyak berada pada kategori Setuju (13 siswa), bukan Sangat Setuju. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun video dinilai bermanfaat, sebagian siswa mungkin masih memerlukan pendampingan atau durasi tampilan yang lebih optimal agar pemahaman dapat dicapai secara maksimal. Berbeda halnya dengan daya tarik visual video (indikator ke-2) yang justru meraih 13 respons Sangat Setuju, mengindikasikan bahwa aspek estetika dan penyajian video sudah sangat memuaskan dari perspektif siswa.
Indikator modul digital (ke-3 dan ke-4) memperlihatkan hasil yang cukup baik meski tidak setinggi video maupun Quizizz. Pada fungsi pemahaman materi, 12 siswa (52,2%) memilih Sangat Setuju, sementara daya tarik tampilan modul memperoleh distribusi yang lebih merata antara Setuju dan Cukup Setuju (masing-masing 8 siswa). Kondisi ini menandakan bahwa desain visual modul digital masih memiliki ruang untuk ditingkatkan guna mencapai keseragaman kesan positif di seluruh siswa.
Sementara itu, indikator yang berkaitan dengan keaktifan siswa (ke-8) dan penjelasan guru (ke-7) mencatat distribusi yang lebih tersebar. Pada indikator keaktifan, 8 siswa masih berada di kategori Cukup Setuju, dan satu siswa bahkan menyatakan Tidak Setuju terhadap penjelasan guru. Meskipun proporsinya kecil, temuan ini layak mendapat perhatian karena mengisyaratkan bahwa pelaksanaan pembelajaran secara verbal oleh guru belum sepenuhnya mampu mendorong keterlibatan aktif seluruh siswa. Perlu dipertimbangkan strategi pembelajaran yang lebih interaktif atau variatif untuk mengakomodasi karakteristik belajar seluruh peserta didik.
C. Hasil Penilaian Observer/Guru
Di samping angket siswa, observasi juga dilengkapi dengan lembar penilaian yang diisi oleh guru observer. Penilaian ini mencakup sembilan indikator yang mengevaluasi kinerja guru dan efektivitas media pembelajaran secara keseluruhan. Skala penilaian yang digunakan adalah 1 (Kurang), 2 (Cukup), 3 (Baik), dan 4 (Sangat Baik). Berikut disajikan rekapitulasi hasil penilaian guru observer.
1. Membuka pembelajaran dengan baik (Skor 3 = Baik)
2. Menguasai materi pembelajaran (Skor 4 = Sangat Baik)
3. Video microlearning sesuai dengan materi (Skor 4 = Sangat Baik)
4. Modul digital mudah dipahami (Skor 4 = Sangat Baik)
5. Penggunaan Quizizz berjalan dengan baik (Skor 4 = Sangat Baik)
6. Penggunaan media ICT menarik perhatian siswa (Skor 4 = Sangat Baik)
7. Mampu mengelola kelas dengan baik (Skor 3 = Baik)
8. Interaksi dengan siswa berlangsung aktif (Skor 3 = Baik)
9. Menutup pembelajaran dengan kesimpulan yang jelas (Skor 4 = Sangat Baik)
D. Analisis Penilaian Guru Observer
Hasil penilaian guru observer menunjukkan gambaran yang sangat positif terhadap pelaksanaan pembelajaran. Dari sembilan indikator yang dinilai, enam di antaranya mendapatkan skor tertinggi, yaitu 4 (Sangat Baik), sementara tiga indikator lainnya memperoleh skor 3 (Baik). Tidak terdapat satu pun indikator yang dinilai Cukup atau Kurang, sehingga dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan pembelajaran berjalan sesuai harapan.
Indikator yang memperoleh penilaian Sangat Baik mencakup penguasaan materi pembelajaran, kesesuaian video microlearning dengan materi, kemudahan pemahaman modul digital, kelancaran penggunaan Quizizz, daya tarik media ICT terhadap perhatian siswa, serta kejelasan kesimpulan di akhir pembelajaran. Penilaian ini mencerminkan bahwa persiapan dan penguasaan teknis guru terhadap perangkat pembelajaran berbasis ICT sudah sangat matang. Khususnya, kesesuaian antara konten media dengan materi ajar menjadi keunggulan tersendiri yang memastikan bahwa teknologi tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan benar-benar berperan sebagai penopang pencapaian tujuan pembelajaran.
Sementara itu, tiga indikator yang mendapatkan skor Baik (3) adalah kemampuan membuka pembelajaran, pengelolaan kelas, serta intensitas interaksi dengan siswa. Hasil ini sejalan dengan temuan pada angket siswa yang juga menunjukkan distribusi jawaban lebih beragam pada aspek keterlibatan dan keaktifan siswa. Meskipun skor 3 (Baik) sudah tergolong memadai, area ini mengindikasikan adanya ruang peningkatan, terutama dalam strategi membuka pelajaran agar lebih mampu membangun motivasi awal siswa, serta dalam teknik pengelolaan kelas yang lebih responsif terhadap dinamika peserta didik.
Lebih lanjut, terdapat catatan khusus dari observer bahwa penutup pembelajaran dinilai belum sepenuhnya mewakili keseluruhan materi yang telah dibahas. Meskipun indikator ‘menutup pembelajaran dengan kesimpulan yang jelas’ mendapatkan skor 4 (Sangat Baik), komentar ini mengindikasikan bahwa terdapat kesenjangan antara penilaian kuantitatif dan pengamatan kualitatif observer. Dengan kata lain, kesimpulan yang disampaikan mungkin sudah distrukturkan dengan baik secara format, namun substansinya belum mencakup seluruh kompetensi inti yang ingin dicapai. Hal ini menjadi catatan penting untuk ditindaklanjuti pada siklus pembelajaran berikutnya.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilaksanakan di MTs Tanada, dapat disimpulkan bahwa penerapan media pembelajaran berbasis Information and Communication Technology (ICT) dalam proses pembelajaran memberikan dampak yang positif terhadap kegiatan belajar mengajar di kelas. Penggunaan media ICT seperti video microlearning, modul digital, dan aplikasi Quizizz mampu membantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan menyenangkan bagi peserta didik. Kehadiran media digital dalam pembelajaran juga membuat proses penyampaian materi menjadi lebih variatif sehingga siswa tidak hanya menerima pembelajaran secara konvensional, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang lebih aktif dan inovatif sesuai dengan perkembangan pendidikan di era digital saat ini.
Hasil angket respons siswa menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan media ICT selama pembelajaran berlangsung. Tingginya persentase jawaban Sangat Setuju dan Setuju pada hampir seluruh indikator menunjukkan bahwa media pembelajaran yang digunakan mampu meningkatkan minat belajar, perhatian, serta keterlibatan siswa di dalam kelas. Penggunaan aplikasi Quizizz menjadi media yang paling menarik perhatian siswa karena dianggap mampu menciptakan suasana belajar yang lebih seru dan tidak membosankan. Selain itu, video pembelajaran dan modul digital juga dinilai membantu siswa memahami materi dengan lebih mudah karena materi disajikan secara visual, sistematis, dan lebih menarik dibandingkan metode pembelajaran biasa.
Berdasarkan hasil observasi dan penilaian guru observer, pelaksanaan pembelajaran berbasis ICT secara umum telah berjalan dengan baik. Guru mampu menguasai materi pembelajaran, menggunakan media digital sesuai dengan tujuan pembelajaran, serta menciptakan pembelajaran yang mampu menarik perhatian peserta didik. Penggunaan media ICT tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu penyampaian materi, tetapi juga membantu meningkatkan efektivitas pembelajaran karena siswa menjadi lebih fokus dan lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran dapat mendukung terciptanya proses belajar yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik di era modern.
Meskipun demikian, hasil observasi juga menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Beberapa siswa masih belum sepenuhnya aktif dalam mengikuti pembelajaran, sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang lebih interaktif agar seluruh peserta didik dapat terlibat secara optimal. Selain itu, pengelolaan kelas, variasi interaksi pembelajaran, serta penyampaian kesimpulan materi di akhir pembelajaran masih dapat dikembangkan agar proses pembelajaran menjadi lebih maksimal. Tampilan modul digital juga masih memiliki ruang untuk diperbaiki agar lebih menarik dan mampu meningkatkan ketertarikan siswa secara lebih merata.
Secara keseluruhan, kegiatan observasi ini menunjukkan bahwa penerapan media pembelajaran berbasis ICT di MTs Tanada telah sesuai dengan teori pembelajaran berbasis teknologi yang dipelajari selama perkuliahan. Pemanfaatan ICT terbukti mampu membantu guru dalam menyampaikan materi secara lebih menarik, meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa, serta menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Oleh karena itu, penggunaan media pembelajaran berbasis ICT perlu terus dikembangkan dan diterapkan secara lebih optimal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Saran
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, guru diharapkan dapat terus mengembangkan penggunaan media pembelajaran berbasis Information and Communication Technology (ICT) secara lebih kreatif, inovatif, dan variatif agar proses pembelajaran menjadi lebih menarik serta mampu meningkatkan keterlibatan seluruh peserta didik secara merata. Penggunaan media seperti video pembelajaran, modul digital, dan aplikasi interaktif perlu dipadukan dengan metode pembelajaran lain seperti diskusi, tanya jawab, maupun kerja kelompok agar siswa lebih aktif selama kegiatan belajar berlangsung. Selain itu, guru juga perlu memperhatikan desain dan penyajian media pembelajaran agar lebih menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Bagi pihak sekolah, diperlukan dukungan sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang pelaksanaan pembelajaran berbasis ICT secara optimal. Sekolah diharapkan dapat terus meningkatkan fasilitas teknologi pembelajaran, seperti perangkat digital dan akses internet, serta memberikan pelatihan atau pendampingan kepada guru terkait penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi. Dengan adanya dukungan tersebut, guru akan lebih siap dalam memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan perkembangan pendidikan di era digital. Bagi peserta didik dan peneliti selanjutnya, penggunaan media ICT diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih aktif dan bertanggung jawab untuk mendukung proses belajar yang lebih mandiri, kreatif, dan interaktif. Sementara itu, hasil observasi ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian berikutnya mengenai pembelajaran berbasis ICT dengan cakupan yang lebih luas, metode yang lebih mendalam, maupun penggunaan media digital yang lebih beragam sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kualitas pembelajaran di sekolah.
Dokumentasi Observasi


Daftar Pustaka
ASWAN, BESSE WARDA FITRI. “Upaya Guru Dalam Pemanfaatan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Untuk Meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Fikih Di Man 2 Kota Palu,” 2025.
Azhar Arsyad. “Media Pembelajaran.” JRajawali Pers, 2014.
khairil Anwar, Murtopo. “Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Komunikasi ( ICT ) Dalam” 8, no. 1 (2024): 132–39.
Sugiarto, Toto, Wawan Purwanto, and Hendra Dani Saputra. “EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI TERHADAP HASIL BELAJAR : METAANALISIS Pendidikan Merupakan Upaya Untuk Mempercepat Pembangunan SDM Indonesia ,” no. c (2023): 128–42. https://doi.org/10.31571/edukasi.v21i1.5419.
Wb, Randi Syahputra, Tegar Bayu Prayoga, and Zaki Ma. “Media Pembelajaran Berbasis IT” 03, no. 02 (2024): 47–55.